Waka DPR Saan Dorong Bencana Kekeringan di Jabar Ditangani Serius

2 hours ago 2

Jakarta -

Wakil Ketua DPR RI, Saan Mustopa, menanggapi fenomena kekeringan di Jawa Barat imbas kemarau panjang. Saan mendorong agar bencana kekeringan ini ditangani secara serius.

"Ya, terkait dengan kekeringan ya, di terutama di Jawa Barat, DPR sudah mengantisipasinya," kata Saan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Saan mengatakan dirinya dan jajaran DPR telah meninjau kondisi kekeringan di Cirebon, Jawa Barat. Saan mengatakan Dirjen Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PU juga sudah turun ke lokasi melakukan penanganan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Seperti hari Minggu yang lalu pimpinan DPR ke Cirebon, memang itu daerah yang sangat terdampak, beserta dengan apa, Dirjen SDA (Sumber Daya Air), bahkan juga dengan balai semua, semua stakeholder, untuk sama-sama menangani daerah-daerah yang kekeringan," ungkapnya.

Waketum NasDem ini mengatakan DPR akan berkomitmen menyelesaikan permasalahan kekeringan di daerah. Ia menyebut hal itu diprioritaskan dengan serius.

"Dan tentu DPR akan terus mendorong, ini bagian dari komitmen DPR, pemerintah dan DPR beserta seluruh jajaran pemerintah daerah baik provinsi, kabupaten/kota untuk menangani bencana kekeringan ini dan kekurangan air bersih buat masyarakat itu secara serius. Jadi kita sudah mulai DPR melakukannya," ungkap dia.

Diketahui, Saan meninjau kondisi warga di Desa Slangit, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, bersama Direktur Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Mayjen TNI (Purn) Arnold Aristoteles Paplapna Ritiauw pada Minggu (30/8). Hadir dalam kegiatan ini Bupati dan Wakil Bupati Cirebon, jajaran pemerintah daerah, BPBD Kabupaten Cirebon, serta pemerintah desa setempat.

Berdasarkan data kondisi kekeringan 2026 di Kabupaten Cirebon, kekeringan ekstrem melanda enam kecamatan. Sebanyak 8.137 jiwa atau 3.323 keluarga terdampak dan membutuhkan bantuan air bersih.

Dikatakan salah satu wilayah yang mengalami dampak cukup berat adalah Desa Slangit. Sekitar 4.000 warga terdampak langsung dan telah menghadapi persoalan akses air bersih dalam waktu yang panjang.

Keterbatasan sumber air, katanya, membuat masyarakat harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk keperluan mandi dan mencuci, sebagian warga bahkan memanfaatkan air sungai atau saluran irigasi yang kondisinya tidak layak.

"Problem utama di sini adalah akses air bersih yang sudah berlangsung sangat lama. Kondisi ini sangat memprihatinkan bagi kita semua," ujar Saan dalam keterangannya saat meninjau lokasi, Minggu (30/8).

Simak juga Video 'Dampak Kemarau Panjang, 16.758 Warga Gorontalo Krisis Air Bersih':

(dwr/lir)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |