Jakarta -
Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan bahwa situasi di Myanmar turut dibahas dalam forum retret Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, beberapa hari lalu. Pembahasan termasuk soal pemilu dan terbentuknya pemerintahan baru Myanmar hasil pemilihan tersebut.
Sugiono menjelaskan, sejak awal, Indonesia menekankan bahwa proses pemilu di Myanmar harus berlangsung secara inklusif dan mampu menjawab berbagai persoalan yang terjadi di negara tersebut. Proses politik itu juga diharapkan dapat membawa perdamaian dan menciptakan situasi yang lebih baik bagi masyarakat Myanmar
"Kemudian, pada kesempatan retreat kemarin, juga dibahas mengenai situasi di Myanmar, seperti kita ketahui bersama bahwa pemilu telah terjadi, kemudian pemerintahan yang baru hasil pemilu tersebut sudah terbentuk. Dari awal posisi Indonesia adalah jika pemilu tersebut berlangsung, pemilu yang berlangsung harus inklusif, kemudian mampu men-address masalah-masalah yang ada di sana, kemudian juga mampu membawa perdamaian, kemudian bisa menciptakan suatu situasi yang lebih baik," kata Sugiono dilihat di YouTube Sekretariat Presiden, Senin (11/5/2026).
Indonesia, menurut dia, tetap berpegang pada prinsip five-point consensus ASEAN yang selama ini menjadi acuan utama dalam penyelesaian krisis di Myanmar. Dalam pembahasan tersebut, negara-negara ASEAN turut menyoroti sejumlah langkah positif yang dilakukan pemerintahan baru Myanmar.
Salah satunya adalah pembebasan lebih dari 6.000 tahanan politik sebagaimana disampaikan pihak Myanmar, serta perubahan status tahanan terhadap tokoh demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi.
"Setelah pemilu ada beberapa gestur positif yang dinilai juga perlu diapresiasi yang dilakukan oleh pemerintah baru, yaitu di antaranya pembebasan, kalau angka yang disebut oleh pihak Myanmar sekitar 6.000 lebih tahanan politik, kemudian juga perubahan status tahanan dari Aung San Suu Kyi," ucapnya.
Sugiono menilai langkah tersebut merupakan bagian dari progres dalam upaya memenuhi implementasi five-point consensus yang selama ini didorong ASEAN. Selain itu, negara-negara ASEAN membahas langkah-langkah terukur yang perlu dilakukan untuk merespons perkembangan terbaru di Myanmar.
"Saya kira ini merupakan satu progres dalam rangka memenuhi five-point consensus yang menjadi kewajiban. Ini yang kemudian dibahas dan langkah-langkah terukur apa yang perlu dilakukan oleh negara-negara ASEAN dalam menyikapi progres yang terjadi di Myanmar ini," ujarnya.
Pada prinsipnya, kata Sugiono, seluruh negara anggota ASEAN memiliki pandangan yang sama bahwa Myanmar harus terus dirangkul sebagai bagian dari keluarga besar ASEAN. Negara-negara anggota juga sepakat untuk terus memberikan perhatian dan keterlibatan konstruktif agar Myanmar dapat memperbaiki situasi di negaranya.
"Pada intinya semua berpendapat sepaham bahwa sebagai satu keluarga dalam sebuah kawasan ASEAN, negara-negara anggota harus terus memberikan perhatiannya, concern-nya, dan terus men-engage Myanmar untuk bisa menemukan jalan yang mereka tentukan sendiri dalam rangka memperbaiki situasi di negaranya," ucapnya.
(eva/zap)
















































