Operasi Helikopter Water Bombing di Palangka Raya Terkendala Kabut Asap

2 hours ago 2

Jakarta -

Asap tebal masih menyelimuti langit kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Kepala Pelaksana BP BPK Kalteng Ahmad Toyib mengatakan kondisi visibilitas (jarak pandang) membuat pergerakan armada water bombing terbatas.

"Optimalisasi WB melalui satgas udara tidak bisa dilakukan secara maksimal. Makanya pergerakan kepala apinya menjadi cepat karena didukung angin kencang di lokasi," kata Toyib, dilansir detikKalimantan, Selasa (1/9/2026).

Dalam tiga hari terakhir, jarak pandang di Kota Palangka Raya mengalami penurunan cukup signifikan. Kondisi tersebut membuat penerbangan helikopter untuk misi pemadaman harus dibatasi demi keselamatan operasional. Menurut Toyib, helikopter water bombing baru dapat diterbangkan apabila visibilitas di Palangka Raya berada di atas 1.500 meter.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekarang ada empat unit yang siap bekerja. Tinggal menunggu visibility di Palangka Raya. Kalau visibility-nya di atas 1.500 meter, heli WB baru bisa bekerja," ujarnya.

Persoalan yang dihadapi saat ini bukan hanya ketersediaan armada. Dari lima unit helikopter water bombing yang disiapkan, empat unit berada dalam kondisi siap diterjunkan.

Namun kesiapan armada tersebut belum menjamin operasi pemadaman via udara dapat berjalan optimal. Kondisi atmosfer, terutama jarak pandang, menjadi faktor penting sebelum helikopter diperbolehkan menjalankan misi water bombing.

"Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri di tengah karhutla yang masih meluas. Berdasarkan data akumulasi BPBD Kalteng hingga 31 Agustus 2026 pukul 18.00 WIB, tercatat 49.551 hotspot dan 2.222 kejadian karhutla di wilayah Kalimantan Tengah. Luas lahan yang terbakar berdasarkan laporan kabupaten/kota mencapai sekitar 6.358,71 hektare," pungkasnya.

Simak selengkapnya di sini.

Simak Video '3 Helikopter dari Jepang Akan Tiba 10 September untuk Bantu Tangani Karhutla':

(yld/idh)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |