Jakarta - Lena Karolina gelisah dengan sistem pendidikan yang hanya menekankan hafalan, nilai, dan ujian. Baginya, pendidikan seharusnya juga mengajarkan kemandirian, interaksi sosial, dan kontribusi bagi masyarakat. Kegelisahan itu mendorongnya mendirikan Sekolah Eksplorasi di Jakarta Timur bersama Yudha Dwi Hapsara, sebuah ruang belajar alternatif yang menekankan eksplorasi diri dan keterhubungan dengan kehidupan sekitar.
"Anak memang harus dapatkan maknanya pembelajaran. Bukan hanya di-drill tentang materi dan rumus. Di Sekolah Eksplorasi ini kita mendekatkan itu, bahwa di dunia nyata ini adalah bukan ranking atau nilai, tapi adalah proses kehidupan dengan masyarakat," jelas Lena di program Sosok detikcom (11/5/2026).
Lena menuturkan, Sekolah Eksplorasi menerima peserta belajar usia SMP dan SMA dengan format kelas mikro berisi 12-15 anak. Format ini memungkinkan setiap anak mendapat perhatian lebih dan bimbingan yang personal.
Dalam prosesnya, anak-anak diajak menjelajahi tiga ruang eksplorasi, ruang realitas untuk memahami isu sekitar dan mengolahnya menjadi karya, ruang peran untuk mencoba berbagai peran dalam kehidupan, mulai dari karier, rumah, sekolah, warga negara, hingga ekologis, dan ruang potensi diri untuk mengenali kepribadian, minat, bakat, serta keresahan pribadi. Selain itu, Sekolah Eksplorasi juga memfasilitasi ijazah kesetaraan bagi peserta yang membutuhkannya.
Rekan Lena sekaligus founder Sekolah Eksplorasi Yudha Dwi Hapsara menuturkan, butuh waktu bertahun-tahun untuk ia dan Lena merancang desain pembelajaran yang tepat untuk Sekolah Eksplorasi. Keduanya pun setuju pentingnya melihat para peserta belajar sebagai manusia yang utuh. Perspektif tersebut kemudian menentukan arah kurikulum yang dibuat.
"Apakah dia itu sebagai manusia utuh, yang nantinya akan menjalani berbagai peran kehidupan yang seperti kita lakukan, atau kita cuma melihat dia sebagai salah satu komponen dari mesin pertumbuhan ekonomi negara nanti di masa depan? Dua perspektif itu aja membuat rancangan belajarnya jadi beda. Kita memilih jalan untuk menerima anak-anak ini sebagai manusia yang utuh," tutur Yudha.
Sebagai co-founder, kepala sekolah, dan fasilitator di Sekolah Eksplorasi, Lena tidak hanya mengajar, tetapi juga memperjuangkan dan mempromosikan alternatif pendidikan di Indonesia. Meski tak semua orang memahami rancangan belajar yang ia terapkan, Lena tetap maju, yakin bahwa anak-anak layak mendapat pendidikan yang tidak sekadar menekankan angka, nilai, dan hafalan, tetapi juga memanusiakan mereka.
"Kalau dianggap misalkan ini kayak main-main, ya main itu adalah suatu proses belajar. Masyarakat ini harus lihat bahwa kita tuh proses pembelajaran itu tidak hanya sekolah yang hanya akademis. Harus ada yang baru, dan harus ada tumbuh hal alternatif yang mungkin dianggap tidak serius. Tapi justru dengan alternatif ini, ruang keseriusan kami, bagaimana manusia itu dalam dunia pendidikan itu benar-benar dimanusiakan, gitu," pungkas Lena.
Saksikan selengkapnya di program Sosok detikcom dalam kanal 20Detik. (nel/ppy)















































