Antisipasi Hantavirus, Komisi IX DPR Minta Gencarkan Surveilans dan Sosialisasi

7 hours ago 4
Jakarta -

Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah memastikan satu warga asal Kulon Progo yang suspek terpapar hantavirus dinyatakan negatif. Meski begitu, Komisi IX DPR meminta pemerintah memperkuat surveilans untuk mencegah adanya penularan virus.

"Terkait informasi suspek Hanta Virus di DIY yang kemudian telah dipastikan negatif oleh Dinas Kesehatan, tentu kita mengapresiasi langkah cepat dan transparan dari Dinkes DIY dalam melakukan pemeriksaan dan memastikan kondisi tersebut," kata Wakil Ketua Komisi IX DPR Fraksi PDIP Charles Honoris kepada wartawan, Senin (11/5/2026).

"Meski hasilnya negatif, kejadian ini tetap menjadi pengingat penting bahwa penguatan surveilans penyakit menular harus terus dilakukan," sambungnya.

Charles menekankan pemerintah perlu memastikan sistem surveilans berjalan baik hingga ke daerah, termasuk kesiapan fasilitas kesehatan, laboratorium, serta mekanisme deteksi dini dan pelaporan yang cepat. Ia pun mendorong penguatan koordinasi pemerintah dengan otoritas kesehatan negara lain.

"Selain itu, pemerintah juga perlu terus memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan otoritas kesehatan di berbagai negara serta lembaga kesehatan internasional untuk memonitor perkembangan dan penyebaran virus ini secara global. Langkah tersebut penting agar Indonesia dapat melakukan antisipasi lebih dini dan menyiapkan respons kesehatan masyarakat secara tepat," katanya.

Charles juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.

"Ikuti informasi resmi dari pemerintah maupun otoritas kesehatan," pungkasnya.

Di sisi lain, anggota Komisi IX DPR Fraksi NasDem Irma Suryani Chaniago mendorong pemerintah melakukan sosialisasi secara langsung ke masyarakat dalam mengantisipasi risiko penularan hantavirus.

"Kemenkes sudah on the track dalam memberikan informasi ke publik melalui sosialisasi Germas, namun memang harus dilakukan dengan turun langsung juga karena tidak semua masyarakat punya gadget yang memadai dan belum lagi masih banyak wilayah yang masih blank spot," kata Irma kepada wartawan, Senin (11/5/2026).

Ketua DPP NasDem ini merujuk data Kemenkes bahwa ditemukan sebanyak 17 kasus hantavirus di Indonesia pada 2025 dan lima kasus pada 2026. Ia meminta masyarakat waspada meski temuan kasus masih relatif rendah.

"Meskipun ada temuan, risiko penularan ke publik secara luas dinilai relatif rendah oleh IDAI, namun tetap harus waspada," katanya.

1 Suspek di Kulon Progo Negatif

Dinkes Kabupaten Kulon Progo, DIY, sebelumnya mengungkapkan hasil kasus suspek hantavirus yang diidap seorang warga di wilayah tersebut. Dinkes menyampaikan hasil laboratorium Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyatakan negatif.

"Pada tahun 2026 ini memang ada suspek hantavirus, tetapi hasilnya sudah keluar dua hari lalu dan hasilnya negatif," kata Kepala Dinkes Kulon Progo Susilaningsih dilansir Antara, Minggu (10/5).

Menurut dia, salah satu warga Kulon Progo, yang sebelumnya diduga terkena penyakit hantavirus, telah menjalani pemeriksaan laboratorium Kemenkes dan diklarifikasi oleh Dinkes Kabupaten Kulon Progo dan Dinkes Provinsi DIY.

"Iya, (hasilnya) negatif. Ini informasi dari Kemenkes, Dinas Kesehatan DIY sudah klarifikasi ke pusat. Jadi di Kulon Progo tidak ada kasus di manusia yang positif hantavirus," kata Susilaningsih.

Meskipun hasilnya negatif, masyarakat di Kabupaten Kulon Progo tetap diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi risiko penularan penyakit zoonosis tersebut, terutama terhadap tikus yang menjadi perantara penularan hantavirus.

Tonton juga video "Dirjen WHO soal Hantavirus: Ini Bukan Covid!"

(fca/imk)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |