Seorang warga Pandeglang, Banten, bernama Bagaz Bathoeta mengatakan dentuman dan getaran di rumahnya sudah hilang. Dia mengaku sudah lebih tenang.
"Sejak jam 11.00 WIB tadi sudah tak terasa getaran. Sekarang sudah lebih tenang jadinya," kata Bagaz saat dihubungi, Sabtu (5/9/2026).
Dia mengaku mendengar dentuman dan rumahnya bergetar sejak pukul 01.00 WIB tadi. Bagaz mengatakan peristiwa pintu dan jendela bergetar baru pertama kali terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumah Bagaz berjarak sekitar 10 kilometer dari tepi pantai Selat Sunda, lokasi Gunung Anak Krakatau yang sedang erupsi. Getaran dan dentuman, katanya, juga dirasakan warga lain yang tinggal di dataran lebih tinggi.
"Kalau untuk erupsinya kan udah sering ya dari zaman dulu kan saya memang warga sini ya. Cuma untuk kali ini yang getarannya terus-menerus itu yang lama durasinya ya baru kali ini kayaknya," ucapnya.
Bagaz bersama tetangga sempat keluar rumah pagi tadi ketika mereka merasakan getaran semakin kencang. Kondisi barang rumah bergetar berjam-jam membuatnya cukup waswas.
Selain pintu dan jendela, pagar hingga atap rumah warga ikut bergetar. Dalam video yang dibagikannya via media sosial (medsos), suara gesekan benda terdengar jelas.
"Merasakannya itu tadi pas pagi ya puncaknya tuh. Cuma lumayan mencekam sih. Tadi tuh sempat melemah dan menguat gitu, tapi nggak yang stuck di kuat (getarannya) gitu," katanya.
Dia juga mengaku merasa tanah turut bergetar. Rentetan peristiwa itu terjadi berbarengan dengan peristiwa erupsi Gunung Anak Krakatau.
Sumber Dentuman
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Rita Susilawati, menjelaskan alasan suara dentuman yang diduga berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau dapat terdengar hingga Bandung, Jawa Barat. Menurutnya, energi akustik dari erupsi bisa merambat hingga ratusan kilometer.
"Jadi, kalau dari pengamatan yang kami lakukan, tidak hanya untuk Anak Krakatau, tetapi juga beberapa gunung api lainnya di Indonesia, ketika erupsi besar terjadi gitu ya, atau tidak hanya erupsi besar, erupsi dengan tipe tertentu, karena kalau tipe tuh phreatic ini memang biasanya disertai dentuman yang nyaring," kata Rita dalam konferensi pers dilihat YouTube Badan Geologi, Sabtu (5/9).
"Nah, ketika ini terjadi, pelepasan energi akustiknya itu bisa sangat besar, dan energi akustik inilah yang bisa merambat hingga ratusan kilometer," sambungnya.
Rita mengatakan perambatan suara erupsi hingga jarak jauh bukan merupakan fenomena yang tidak mungkin terjadi. Dia mencontohkan erupsi eksplosif Gunung Kelud pada 13 Februari 2014.
Sebab itu, menurutnya, berdasarkan data pemantau, suara dentuman bisa terdengar hingga jarak jauh. Meski begitu, dia belum bisa memastikan penyebab dentuman. Dia menduga dentuman berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
"Untuk penyebabnya tadi seperti kami sampaikan, kami memang menduga nih suara yang tadi karena berhubungan dengan erupsi Anak Krakatau yang terjadi tadi malam, dugaan kuatnya memang itu berhubungan dengan gunung api Anak Krakatau," ujarnya.
Tonton juga video "Gunung Anak Krakatau Erupsi, Warga Diimbau Pakai Masker"
(jbr/dhn)


















































