Jakarta -
Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI (Kemenko Pangan) meluncurkan Pilot Project Penanaman Kedelai di Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor. Pilot Project tersebut dilaksanakan di lahan seluas 25 hektare yang diproyeksikan meningkat menjadi 100 hektare di tahun 2027.
Adapun Pilot Project ini dilakukan bersama Kementerian Pertanian (Kementan), Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor, PT Pupuk Indonesia (Persero), dan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo).
Kepala Biro (Kabiro) Umum dan Hubungan Masyarakat (Humas) Kemenko Pangan Gunawan mengatakan dari sisi produksi, Pilot Project Cariu mendapatkan dukungan sarana dan prasarana, mulai dari benih unggul, pupuk, pestisida, pompa air, hingga traktor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu memastikan proses budi daya berjalan optimal sekaligus menjadi pembelajaran untuk pengembangan kedelai di wilayah lain," ujar Gunawan dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/9/2026).
Selain penguatan di sektor hulu, keberhasilan program juga didukung oleh kepastian pasar di sektor hilir. Hasil panen kedelai dari Pilot Project Cariu akan diserap oleh Gakoptindo sebagai mitra off-taker, baik untuk dikembangkan kembali sebagai sumber benih maupun untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri tahu dan tempe.
"Kepastian penyerapan hasil panen tersebut diharapkan dapat memberikan jaminan pasar dan meningkatkan kepastian usaha bagi petani. Dengan demikian, petani tidak hanya memperoleh dukungan dalam proses produksi, tetapi juga memiliki kepastian terhadap pemasaran hasil panennya," imbuh Gunawan.
Adapun program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat produksi kedelai dalam negeri sekaligus mengurangi tingginya ketergantungan terhadap impor, yang saat ini masih mencapai sekitar 95 persen dari kebutuhan nasional.
Program tersebut menjadi salah satu langkah awal pemerintah untuk memperkuat produksi kedelai dalam negeri sekaligus mengurangi kesenjangan antara kebutuhan dan kemampuan produksi nasional.
Kebutuhan kedelai nasional diproyeksikan terus meningkat. Pada 2026, kebutuhan diperkirakan mencapai sekitar 2,79 juta ton dan meningkat menjadi sekitar 3 juta ton pada 2029. Di sisi lain, produksi kedelai dalam negeri masih berada jauh di bawah kebutuhan tersebut.
Sementara itu, produksi kedelai dalam negeri masih belum mampu memenuhi kebutuhan nasional, dengan capaian produksi tahun 2025 baru berada pada kisaran 79 ribu ton, sementara kebutuhan nasional mencapai 2,72 juta ton.
"Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya kesenjangan antara kebutuhan dan kemampuan produksi nasional, sehingga diperlukan langkah percepatan dan kolaborasi yang lebih kuat untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri," kata Gunawan.
Gunawan menyebut program ini tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan kedelai, tetapi juga memperkuat ketersediaan benih kedelai berkualitas. Benih tersebut diharapkan dapat mendukung perluasan area tanam pada tahun-tahun berikutnya.
Kemenko Pangan melalui Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Tanaman Pangan, Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian, turut mengkoordinasikan penguatan kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan kedelai nasional.
Kemenko Pangan berharap Pilot Project Penanaman Kedelai di Cariu dapat menjadi model pengembangan kedelai nasional yang terintegrasi dan berkelanjutan. Ke depan, model kolaborasi ini diharapkan dapat direplikasi dan dikembangkan di berbagai wilayah yang memiliki potensi pengembangan kedelai, sehingga secara bertahap dapat meningkatkan produksi dalam negeri dan memperkuat kemandirian pangan nasional.
(anl/ega)


















































