Timeline Anak Krakatau Berstatus Siaga Juli 2026 hingga Abu Vulkanik Menyebar

5 hours ago 4
Jakarta -

Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Lampung sudah berlangsung sejak awal Juli. Gunung Anak Krakatau ini mengalami erupsi, dentuman hingga mengeluarkan abu vulkanik yang menyebar luas.

Sebagaimana diketahui, Gunung Anak Krakatau sudah berstatus Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026. Gunung Anak Krakatau kemudian mengalami erupsi hebat hingga abu vulkanik menyebar luas.

Pada Minggu (6/9/2026) malam, Gunung Anak Krakatau masih mengalami erupsi. Hingga Senin (7/9) pagi, aktivitas vulkanik gunung api tersebut masih terpantau, dengan tercatat empat kali gempa hembusan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dirangkum detikcom, berikut ini linimasa (timeline) fase aktivitas Gunung Anak Krakatau:

1. 2 Juli: Status Siaga

Pada 2 Juli lalu, Badan Geologi Kementerian ESDM telah menaikkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Lampung, dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

"Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB," kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, Jumat (3/7).

2. 16 Juli: Aktivitas Sempat Mereda

Selanjutnya, kondisi Gunung Anak Krakatau mulai mereda meski masih pada Level III atau Siaga. Beberapa indikator mulai menurun.

"Sudah kecenderungan mereda, tapi level masih di III. Beberapa indikator mulai menurun," kata Kepala BPBD Banten Lutfi Mujahidin dalam keterangannya, Kamis (16/7/2026).

3. 5 September: Erupsi Menerus

Kemudian Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus pada 5 September. Erupsi ini terpantau dengan suara gemuruh dari pos pemantauan.

"Pada tanggal 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunungapi Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai dengan suara gemuruh. Sampai saat ini tanggal 5 September 2026, pukul 04.40 wib masih berlangsung erupsi menerus dan masih terdengar gemuruh dari Pos PGA Krakatau Pasauran dari erupsi menerus GAK," tulis Badan Geologi dalam keterangannya, Sabtu (5/9).

5. 6 September: Abu Vulkanik Menyebar ke Sejumlah Daerah

Selanjutnya, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, mengatakan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar ke lima provinsi. Lima provinsi tersebut adalah Banten, sebagian Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu. Akibatnya, Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) dan bandara lainnya ditutup karena abu vulkanik ini.

"Dan berdasarkan gabungan informasi erupsi dan VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dari PVMBG melalui Magma Indonesia, informasi VAAC (Volcanic Ash Advisory Centre) Darwin serta analisa citra satelit Himawari-9 oleh BMKG, bahwa abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau menyebar di atmosfer ke arah Banten, sebagian Jawa Barat, dan juga DKI Jakarta, serta Lampung dan Bengkulu," ujar Lana dalam konferensi pers secara daring, Minggu (6/9).

6. 7 September: Erupsi Menerus Berakhir

Untuk diketahui, erupsi Gunung Anak Krakatau merupakan tipe letusan strombolian, yakn jenis letusan gunung berapi dengan ledakan yang relatif ringan tapi berlangsung terus-menerus. Erupsi terus-menerus ini berakhir setelah 25 jam.

"Tiga kali erupsi strombolian terjadi setelah episode erupsi menerus berakhir," kata Badan Geologi lewat akun Threads @badan.geologi, Senin (7/9/2026).

Kendati demikian, empat bandara yakni Bandara Soetta (CGK), Bandara Halim Perdanakusuma (HLP), Bandara Radin Inten II (TKG) dan Bandara Husein Sastranegara (BDO) masih ditutup sampai 18.00 WIB.

(rdp/imk)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |