Abu Anak Krakatau Sampai Jakarta, Penjualan Masker di Pasar Pramuka Melonjak

5 hours ago 3

Jakarta -

Erupsi Gunung Anak Krakatau membawa berkah tersendiri bagi pedagang masker di Pasar Pramuka, Jakarta Timur. Warga ramai-ramai berburu masker karena munculnya abu vulkanik imbas erupsi Anak Krakatau.

Pantauan detikcom di lokasi, Senin (7/9/2026) pukul 11.30 WIB, tampak sejumlah warga berkeliling pasar menanyakan masker kepada para penjual. Mereka terlihat serius melihat-lihat beragam opsi masker di kios-kios tersebut.

Hal tersebut membuat beberapa jalanan di dalam Pasar Pramuka jadi lebih menyempit. Jalan yang biasanya dapat dilalui oleh dua orang, kini satu jalur itu biasa ditempati oleh para calon pembeli masker yang berinteraksi dengan penjual.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ramainya para pembeli dibenarkan oleh pedagang masker bernama Gilang. Gilang mengatakan masker ramai diburu warga sejak Minggu (6/9) kemarin.

"Dari kemarinlah pokoknya pada meningkat penjualan masker. Juga yang nyari juga banyak dari konsumennya, permintaannya juga lagi banyak," kata Gilang ditemui di Pasar Pramuka.

Gilang menyebut stok masker di kiosnya menipis. Dia mengatakan stok masker di distributornya pun sedang kosong.

Warga ramai-ramai berburu masker di Pasar Pramuka Jakarta Timur karena munculnya abu vulkanik imbas erupsi Anak Krakatau. (Adhfar/detikcom)Warga ramai-ramai berburu masker di Pasar Pramuka Jakarta Timur karena munculnya abu vulkanik imbas erupsi Anak Krakatau. (Adhfar/detikcom)

"Sekarang lagi ini, stoknya lagi pada udah mulai kosong semua. Paling ada tinggal nggak seberapa. Tinggal sedikit stoknya, dari distributornya juga lagi nggak ada," kata dia.

Untuk diketahui, abu vulkanik imbas erupsi Gunung Anak Krakatau masih menyebar pagi ini. BMKG mencatat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih menyebar hingga ke wilayah Jakarta.

BMKG mengungkap data sebaran abu vulkanik per pukul 06.00 WIB. Dari data tersebut teridentifikasi dua klaster sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

"Berdasarkan informasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada 7 September 2026 pukul 06.00 WIB, teridentifikasi dua klaster sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau," kata BMKG dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).

Klaster pertama mencakup sebagian Banten, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten serta perairan sekitarnya. Tercatat ketinggian abu mencapai 15.000 ft atau 4,57 km ke arah tenggara - barat laut.

"Pada ketinggian ini, sebaran abu berpotensi memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang di wilayah terdampak," ujarnya.

(ygs/ygs)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |