Guru BK di Garut Minta Maaf soal Gunting Rambut Pirang Siswi SMK Berhjijab

5 hours ago 4

Jakarta - Guru SMK di Garut, Ani yang menggunting rambut pirang belasan siswi minta maaf. Permintan maaf disampaikan Ani melalui sebuah video.

Ani berdalih memotong rambut belasan siswi sebagai bentuk penegakkan tata tertib sekolah. Dia meminta maaf apabila tindakannya kurang berkenan.

"Perlu saya sampaikan, bahwa kegiatan tersebut dilakukan sebagai penegakkan tata tertib sekolah, yang telah ditetapkan. Khususnya dalam menjaga kerapian, dan kedisiplinan peserta didik. Namun demikian, saya menyadari bahwa dalam pelaksanaannya, terdapat hal-hal yang tidak berkenan dan menimbulkan berbagai persepsi di kalangan masyarakat," kata Ani, dilansir detikJabar, Jumat (8/5/2026).

"Dengan kerendahan hati, saya meminta maaf khususnya kepada siswa yang saya cintai, orang tua dan masyarakat yang kurang nyaman dengan tindakan saya," lanjutnya.

Aksi Ani menggunting rambut belasan siswi itu viral di media sosial dan terjadi pada Kamis (30/4/2026). Seperti dilihat detikJabar, Jumat (8/5/2026) pagi, dalam video itu tampak sejumlah siswi menangis histeris.

Tangisan itu mulanya tampak membingungkan. Hingga akhirnya, di bagian pertengahan video, seseorang menunjukkan seikat rambut yang telah dipangkas, yang dinarasikan bahwa rambut pelajar itu telah dipotong secara paksa.

detikJabar kemudian melakukan penelusuran lebih lanjut atas kejadian ini. Setelah didalami, ternyata kejadian itu berlangsung di SMKN 2 Garut yang berlokasi di Jalan Raya Suherman, Kecamatan Tarogong Kaler.

Kuasa hukum dari sejumlah pelajar putri yang rambutnya digunting guru itu, Asep Muhidin menuturkan, pihaknya pertama kali mendengar kejadian tersebut dari sejumlah siswi yang mengadu ke Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Nusantara (Stainus) Garut.

Menurut Asep, kejadian bermula saat sekelompok siswi kembali ke kelas usai mengikuti pelajaran olahraga. Lalu, guru tersebut masuk sembari membawa gunting dan langsung melakukan razia.

"Alasannya, ada laporan masyarakat soal rambut. Tapi, kami pertanyakan dasar laporannya. Kenapa tidak melibatkan orang tua? Itu lebih etis," ucap Asep kepada detikJabar, Jumat pagi.

Menurut Asep, tindakan tersebut berlebihan sebab para siswi menutupi bagian rambut dengan hijab selama berada di lingkungan sekolah.

Baca selengkapnya di sini. (dek/idh)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |