Polisi Dalami Early Warning System Terkait Tabrakan Kereta di Bekasi

1 hour ago 2
Jakarta -

Polda Metro Jaya telah memeriksa Kapusdal Ops (Kepala Pusat Pengendali Operasi) KAI Daop 1 Jakarta terkait kasus tabrakan kereta api (KA) jarak jauh Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Salah satu yang didalami terkait early warning system atau voice logger.

"Sudah kami sampaikan, ada pemeriksaan kepada Kapusdal Daop 1 tentang bagaimana operasional perkeretaapian di hari itu. Mulai dari awal kejadian sampai dengan terjadilah temper antara kereta api listrik kepada taksi online," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jumat (8/5/2026).

"Setelah itu ada kereta listrik yang mengantri karena ada terjadi kecelakaan, yang ditemper kembali oleh kereta Argo Bromo Anggrek," lanjutnya.

Polisi masih mendalami terkait early warning system (sinyal hijau), voice logger, ataupun informasi yang disampaikan pengawas dari menara ke KA Argo Bromo. Apabila ada atau tidaknya informasi terkait tabrakan di depan KA tersebut.

"Nah, ini masih didalami apakah terkait tentang early warning system ataupun voice logger ataupun informasi yang disampaikan dari pengawas dari menara kepada kereta api Argo Bromo sudah mendapat informasi belum. Apabila ada di depan kereta api yang sedang mengalami kecelakaan dan berhenti. Ada dua kereta api, yang satu mengalami kecelakaan dan yang satu berhenti. Ini masih dalam pendalaman," jelasnya.

Dia mengatakan polisi juga mendalami pengatur perjalanan kereta terkait sinyal hijau untuk kereta Argo Bromo Anggrek. "Begitu juga tentang pengatur perjalanan kereta api, Bapak SM, ini juga masih didalami tentang sinyal hijau. Saksi memberikan sinyal hijau kepada Kereta Api Argo Bromo Anggrek Nomor 4B yang melintas di wilayah Tambun. Nah, ini juga masih dilakukan pendalaman oleh Puslabfor, penyidik, serta KNKT," tuturnya.

Budi mengatakan, berdasarkan pihak Green SM, per 15 ribu kilometer mobil taksi harus dilakukan maintenance ke depot untuk perawatan. Namun, mobil taksi dalam insiden tersebut belum dilakukan maintenance setelah 24 ribu kilometer.

"Kami juga menyampaikan bahwa terkait tentang informasi dari depot manajer operasional, ini taksi tersebut harusnya per 15 ribu kilometer itu sudah harus masuk ke depot untuk melaksanakan maintenance ataupun perawatan. Tapi sampai dengan 24 ribu itu belum dilakukan maintenance," jelasnya.

"Nah, ini masih kami mendalami apakah akibat tadi pertanyaan tadi, mati mobil listrik ini di perlintasan sebidang kereta api apakah termasuk dampak dari belum dilakukan maintenance. Nah, ini masih kami lakukan pengkajian," tutupnya.

(dvp/isa)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |