Jakarta -
Wali kota Semarang Agustina Wilujeng mengatakan pihaknya menyiapkan beberapa alternatif lahan relokasi untuk warga korban tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang. Tanah bergerak bukan baru pertama kali terjadi di Semarang. Sebelumnya pernah terjadi di wilayah Jomblang.
Khusus di Tembalang, sebanyak 15 rumah dilaporkan terdampak, dengan dua rumah di antaranya terpaksa dibongkar karena mengalami kerusakan parah dan berisiko roboh.
Hal itu dia ungkapkan setelah meninjau langsung lokasi terjadinya pergerakan tanah di wilayah RT 7 RW 1, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang Rabu (11/2/2026) sore.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terkait relokasi, tentu harus ditemukan tempat yang cukup. Ada yang setuju relokasi, ada yang menolak. Nanti akan didata dulu, mana yang mau dan mana yang tidak," kata Agustina dalam keterangan tertulis, Kamis (12/2/2026).
Menurutnya, Pemkot Semarang telah menyiapkan beberapa alternatif lokasi relokasi. Namun, untuk jangka pendek, langkah darurat yang dilakukan adalah memastikan keselamatan warga terdampak.
"Yang paling penting anak-anak yang sekolah harus tetap bisa sekolah. Untuk sementara saya sarankan sebagian warga mengungsi dulu ke sanak saudara," tuturnya.
Dia juga telah meminta camat dan lurah setempat meningkatkan kewaspadaan, termasuk memasang pengeras suara sebagai sistem peringatan dini karena lokasi tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
Terkait anggaran relokasi maupun penanganan di lokasi terdampak, Pemkot Semarang masih melakukan pembahasan lebih lanjut.
Sementara itu, Ketua RT 7 RW 1 Jangli, Joko Sudaryono, mengatakan warga saat ini melakukan gotong royong dan kerja bakti membongkar rumah yang dinilai membahayakan guna mengamankan material bangunan.
"Total ada 15 rumah terdampak. Hari ini yang dibongkar dua rumah yang kondisinya paling parah, milik Bapak Slamet Riyadi dan Bapak Budi Darminto. Sebelumnya ada satu rumah yang roboh sendiri, milik Bapak Supriadi," jelasnya.
Dia menambahkan satu rumah lainnya milik warga bernama Supardi mengalami pergeseran cukup parah sehingga harus dikosongkan.
Untuk sementara, warga yang rumahnya masih layak huni tetap bertahan dengan meningkatkan kewaspadaan. Setiap malam, warga memberlakukan ronda dan pemantauan guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Kalau yang rumahnya berisiko tinggi, kami imbau untuk waspada. Saat ini BPBD juga telah mendirikan tenda pengungsian yang diperuntukkan bagi warga terdampak," katanya.
Pergerakan tanah di Jalan Jangli dilaporkan terus bertambah. Sejak tadi malam hingga pagi hari, tanah bergerak sekitar 2 meter, sehingga lebar retakan kini mencapai kurang lebih 5 meter dan tidak bisa lagi dilalui kendaraan, termasuk sepeda motor.
Warga berharap adanya relokasi ke lokasi yang lebih aman, tapi masih berada di sekitar tanah yang sama. Menurutnya, masih terdapat lahan yang memungkinkan untuk relokasi sekitar 15 rumah terdampak, meski luasnya terbatas.
"Radius terdampak kurang lebih 70 meter. Tapi masih di wilayah RT 7 RW 1," tutup Joko.
(anl/ega)


















































