Prabowo Ingin Percepat PLTS agar Listrik Pulau Terpencil Tak Tergantung Solar

4 hours ago 5
Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto mendorong pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mencapai 100 ribu megawatt atau 100 gigawatt. Prabowo mengatakan program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kemandirian energi nasional.

Hal itu disampaikan Prabowo dalam pidatonya saat rapat paripurna RUU APBN di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Prabowo mengatakan pemerintah akan mempercepat penghentian Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan menggantinya dengan PLTS.

"Kita telah mulai dan akan membangun 100 ribu megawatt atau 100 gigawatt energi dari matahari, energi surya," kata Prabowo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pemerintah akan mempercepat penutupan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel dan menggantinya dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Tahun ini kita akan bangun 30 gigawatt Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan segera menghentikan 13 gigawatt Pembangkit Listrik Tenaga Diesel," sambungnya.

Prabowo mengatakan Indonesia diberi kekayaan sinar matahari sepanjang tahun. Prabowo kemudian menyinggung kondisi sejumlah pulau terpencil yang masih bergantung pada pasokan bahan bakar minyak untuk mendapatkan listrik.

"Kita mendapat anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa sinar matahari yang hampir sepanjang tahun. Tidak masuk akal jika pulau-pulau yang terpencil kita harus menunggu kapal membawa BBM solar untuk memperoleh listrik," ujarnya.

Menurut Prabowo, penggunaan PLTS bisa menekan biaya ekonomi. Selain itu, PLTS dinilai meningkatkan kemandirian energi di wilayah-wilayah terpencil.

"Ongkos ekonominya terlalu tidak efisien. Dengan PLTS kita juga bisa membangun kemandirian energi kita," ujarnya.

Selain itu, Prabowo menyampaikan gagasan agar setiap desa memiliki PLTS dengan kapasitas 1 megawatt. Menurutnya, pemerintah bisa mendukung pembangunan PLTS jika desa memiliki lahan yang memadai.

"Idealnya setiap desa bisa memiliki PLTS 1 megawatt. Ini ideal. Kalau desa itu mau siapkan lahan, kita bisa yakinkan bahwa mereka bisa dapat PLTS 1 gigawatt, atau maaf saya ulangi, 1 megawatt 1 desa," jelasnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, kata Prabowo, telah menghitung bahwa pembangunan 100 gigawatt PLTS bisa menghemat setidaknya Rp73,9 triliun setiap tahun dari penurunan biaya pokok produksi listrik.

"Menko Perekonomian telah menghitung, dengan PLTS 100 gigawatt, negara akan menghemat setidaknya Rp 73,9 triliun setiap tahun dari penurunan biaya pokok produksi listrik kita. Belum lagi kalau kita tidak impor BBM dari luar negeri lagi, dengan 100 gigawatt kebutuhan impor kita akan jauh berkurang dan kita bisa menghemat sangat banyak devisa," tuturnya.

(amw/rfs)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |