10.504 Peserta Lulusan SMA/SMK Ikuti Pelatihan Vokasi Nasional 2026

12 hours ago 7

Jakarta -

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi membuka Pelatihan Vokasi Nasional Batch 1 2026. Program ini diikuti sebanyak 10.504 peserta lulusan SMA/SMK sederajat di seluruh Indonesia.

Acara pembukaan dipusatkan di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bekasi, Jawa Barat. Yassierli menyebut format pelatihan tahun ini sengaja dibuat berbeda dengan sistem pendaftaran terpusat.

"Tahun 2026 ini format kita agak berbeda. Kita ingin pendaftaran dan mulainya pelatihan vokasi itu serentak, sehingga kita ingin memberikan kesempatan yang sama kepada semua pencari kerja," ujar Yassierli dalam sambutannya, di BBVP Bekasi, Rabu (8/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yassierli menjelaskan alasan pembatasan peserta khusus untuk lulusan SMA/SMK pada program ini. Hal ini dilakukan untuk membagi porsi dengan lulusan perguruan tinggi yang sudah memiliki jalur lain.

"Kita sudah ada program untuk lulusan perguruan tinggi, magang 100.000 orang. Dan sekarang kita ada program khusus untuk lulusan SMA atau SMK," jelasnya.

Ribuan peserta tersebut tidak hanya berkumpul di satu titik, melainkan tersebar di berbagai satuan kerja milik Kemnaker. Total terdapat 50 hingga 60 lokasi pelatihan vokasi di seluruh Indonesia.

Untuk tahun anggaran 2026, pemerintah menargetkan kuota hingga 70.000 orang melalui pendanaan APBN. Namun, Yassierli menyebut angka ini berpeluang bertambah melalui skema kerja sama dengan pihak swasta atau industri.

Yassierli mengungkap separuh dari peserta pelatihan vokasi gelombang pertama sudah mendapat jaminan kerja dari industri. Komitmen penyerapan tenaga kerja tersebut akan berlaku bagi mereka yang dinyatakan lulus pelatihan dan mengantongi sertifikat kompetensi.

"Paling penting adalah 50 persen dari peserta yang kick-off hari ini, baik offline maupun online, itu sudah ada jaminan untuk dia bekerja. Tentu jika mereka lulus dan dapat sertifikat," tuturnya.

Peserta yang lulus nantinya tidak hanya mendapat sertifikat pelatihan, tetapi juga sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Sertifikat ini menjadi bukti otentik keahlian mereka di mata industri.

Selain itu, pemerintah juga memberikan dukungan berupa uang ganti transportasi sebesar Rp 20.000 per hari bagi setiap peserta. Mengingat durasi pelatihan yang cukup panjang, mulai dari dua minggu hingga empat bulan, dukungan ini diharapkan dapat membantu mobilitas peserta selama masa belajar di balai-balai latihan.

Peluang Penempatan Kerja di Luar Negeri

Yassierli berharap program pelatihan vokasi nasional dapat berjalan dengan efektif dan memenuhi kebutuhan industri. Tak hanya industri dalam negeri, Yassierli juga menargetkan penyerapan tenaga kerja di luar negeri.

"Jadi banyak negara yang sebenarnya membutuhkan tenaga kerja-tenaga kerja dari Indonesia mulai dari yang medium skill, misalnya mereka yang bekerja di konstruksi, hospitality, bekerja sebagai caregiver, sampai engineer sebenarnya gitu ya. Dan mereka sangat berharap bahwa kesempatan itu Kementerian Ketenagakerjaan bisa membantu," ungkapnya.

Yassierli menuturkan Kemnaker telah mengirim puluhan ribu tenaga kerja dengan skema magang di Jepang setiap tahunnya. Dia berharap skema serupa dapat diimplementasikan ke negara-negara lain yang telah menjalin pembicaraan seperti Qatar, Australia, Rusia, dan Swiss.

"Ini peluang yang besar. Tantangannya memang adalah di bahasa. Nah ini adalah bagaimana kami di balai-balai juga bisa membuat pelatihan-pelatihan bahasa ini bisa lebih efektif. Dan ini juga sebenarnya sudah diinstruksikan oleh Pak Presiden," pungkasnya.

(whn/whn)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |