Lestari Moerdijat Dorong Kewaspadaan Dini Antisipasi Ancaman Virus Nipah

3 hours ago 1

Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengajak masyarakat membangun kewaspadaan untuk mengantisipasi ancaman penyebaran virus Nipah di Indonesia. Ajakan itu disampaikan saat membuka diskusi daring bertema Mengantisipasi Penyebaran Virus Nipah di Indonesia yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12.

"Belajar dari pandemi covid-19 yang baru lalu, saat ini sangat tepat bila kita membangun kewaspadaan dan bersiap dengan menggali berbagai informasi untuk mendapatkan gambaran yang jelas terkait ancaman virus Nipah ini," kata Lestari, dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).

Menurut Lestari yang akrab disapa Rerie, kesiapan para pemangku kepentingan dalam menerapkan mekanisme pencegahan yang tepat, serta pemahaman masyarakat tentang virus Nipah perlu segera diperkuat. Ia menegaskan, meski hingga kini belum ada kasus terkonfirmasi di Indonesia, pemerintah telah mengimbau masyarakat mewaspadai potensi penyebaran virus Nipah yang terdeteksi di sejumlah negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rerie mendorong pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah memberi arahan jelas mengenai langkah antisipasi dan hal-hal yang perlu dilakukan masyarakat dalam menyikapi ancaman tersebut. Ia berharap kewaspadaan publik bisa dibangun sebagai bagian dari mekanisme perlindungan bagi setiap warga negara.

Dalam diskusi tersebut, turut hadir Kepala Organisasi Riset Kesehatan sekaligus Peneliti Ahli Utama Virologi BRIN Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, Ia menyebut wabah virus Nipah yang terjadi belakangan bersifat sporadis dan muncul di sejumlah negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Menurut Indi, paparan wabah tidak hanya menyasar manusia, tetapi juga hewan.

Ia mencontohkan di Singapura, virus Nipah menyerang hewan babi hingga menyebabkan kerugian besar pada sejumlah peternakan. Indi menilai Indonesia sebagai negara dengan megabiodiversity memiliki risiko tinggi terpapar virus Nipah. Virus ini dapat menginfeksi manusia dan hewan dengan menyerang otot, pernapasan, hingga otak.

Indi menambahkan, tantangan pencegahan saat ini antara lain data epidemiologis yang masih terbatas karena wabah bersifat sporadis, kapasitas diagnostik yang belum merata, serta kesadaran masyarakat yang masih rendah.

Sementara itu, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Sumarjaya menjelaskan virus Nipah masuk kategori penyakit emerging, yaitu penyakit yang pernah muncul dan sekarang muncul kembali. Ia menyebut reservoir alami virus Nipah adalah kelelawar buah.

Sumarjaya kembali menerangkan, penularannya bisa terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, mengonsumsi hewan atau makanan mentah yang terkontaminasi, serta kontak erat dengan orang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi virus Nipah. Ia menyebut masa inkubasi virus Nipah berkisar 4 sampai 14 hari.

Sumarjaya menjelaskan gejala awal pada orang yang terinfeksi dapat berupa demam, flu, pusing, penurunan kesadaran, hingga gangguan pernapasan berat yang berujung kematian. Hingga saat ini, kata dia, belum ada obat spesifik dan vaksin juga belum tersedia. Ia berharap masyarakat tetap tenang jika mengalami gejala tersebut dan segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus Direktur WHO SEARO periode 2018-2020, Tjandra Yoga Aditama, menilai dinamika sebaran virus Nipah memiliki kemiripan dengan COVID-19 pada fase awal, ketika masih disebut pneumonia syndrome. Ia mengingatkan, virus Nipah pertama kali mewabah di Malaysia pada 1998-1999 dan saat itu diberi nama wabah Hendra.

Menurut Tjandra, virus Nipah masuk dalam daftar WHO pada 30 Januari 2026 sebagai disease outbreak news (DONs), yakni informasi mengenai kejadian kesehatan masyarakat akut yang terkonfirmasi atau kejadian yang berpotensi menimbulkan kekhawatiran. Jika masuk daftar WHO, ujar Tjandra, ada beberapa kemungkinan tindak lanjut penilaiannya.

"Kemungkinan ketiga, bisa hanya dianggap sebagai DONs saja oleh WHO agar dunia mengetahui informasi awal dan menjadi perhatian," ujar Tjandra.

Tjandra menambahkan, virus Nipah juga sudah masuk roadmap riset dan pengembangan WHO sebagai bagian upaya menemukan langkah pencegahan yang lebih baik.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi menilai pembahasan virus Nipah relevan dan strategis. Menurutnya, isu ini bukan semata soal penyakit menular, tetapi juga menguji ketahanan sistem kesehatan, kesiapsiagaan negara, dan perlindungan warga sebelum krisis terjadi. Berkaca dari pandemi COVID-19, ia menekankan ancaman kesehatan kerap datang tanpa tanda resmi.

"Ancaman kesehatan datang dengan sunyi, kemudian membesar jika negara lalai mewaspadai tanda-tanda awal ancaman kesehatan tersebut," ujar Nurhadi.

Ia menekankan pentingnya respons cepat berbasis deteksi dini untuk mengantisipasi potensi ancaman virus Nipah.

Sementara itu, wartawan senior Saur Hutabarat turut menyampaikan refleksi pengalaman pribadinya terkait kewaspadaan konsumsi makanan. Ia bercerita, saat kecil dirinya menganggap buah yang digigit binatang sebagai buah yang paling enak. Namun, setelah mendengar informasi wabah virus Nipah, pandangannya berubah.

Setelah mendengar wabah virus Nipah pandangan tentang buah yang digigit hewan jadi berubah 180 derajat. "Jangan dimakan itu buah," tutup Saur.

(akn/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |