Legislator Golkar soal 'Dapil Nasional': Menarik, tapi Jangan Bikin Bingung

3 hours ago 1

Jakarta -

Anggota Komisi II DPR RI Fraksi Golkar, Ahmad Irawan menanggapi usulan Partai Demokrat mengenai konsep 'Dapil Nasional' atau national pool dalam penerapan pemilu anggota DPR RI. Dia menyebut usulan itu menarik tapi harus dimatangkan.

"Konsep dapil nasional (national pool) atau penggabungan suara (stembus accord) merupakan suatu gagasan yang menarik. Gagasan apapun itu harus dimatangkan dan diuji agar bisa diimplementasikan dengan baik," kata Ahmad Irawan saat dihubungi, Rabu (23/9/2026).

Dia mengatakan pihaknya akan mengkaji hal tersebut. Gagasan apapun, kata dia, sepanjang sesuai prinsip demokrasi konstitusional, Partai Golkar akan mendukungnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia juga menyinggung praktik pemilu di sejumlah negara di dunia. Namun dia mewanti-wanti agar nantinya sistem tersebut tidak menimbulkan masalah baru hingga membuat para pemilih kebingungan.

"Kelebihan national pool kalau tadi Pak Dede Yusuf ambil contoh di Jerman, menariknya calon-calon yang mendapatkan mandat rakyat ditentukan oleh partai politik. Jadi bisa menguatkan institusi kepartaian. Banyak pengurus atau aktivis partai yang lama mengabdi punya kemampuan yang mumpuni kalah di sistem proporsional terbuka yang biayanya mahal," kata dia.

Menurutnya, sistem pemilu negara lain seperti Jerman bagus dicoba di Indonesia. Namun, menurutnya perlu ada kajian mendalam sebelum diterapkan agar tidak membuat rakyat bingung.

"Kita punya sistem pemilu dan praktik sendiri selama beberapa kali pemilu. Melihat negara lain bagus dalam kerangka penyempurnaan sistem. Cuma kembali, tadi harus kita kaji dan matangkan supaya bisa diimplementasikan. Tidak justru menimbulkan masalah baru atau membuat rakyat bingung dan penyelenggaraan pemilu semakin kompleks," jelasnya.

Sebelumnya, Waketum Demokrat Dede Yusuf menanggapi usulan Ketua Umum (Ketum) Partai NasDem Surya Paloh yang konsisten mengusulkan ambang batas parlemen di angka 7 persen. Demokrat lantas menyinggung soal belasan juta suara hangus saat parliamentary threshold (PT) 4 persen yang diterapkan pada pemilu lalu.

"Kalau Demokrat sedang mengkaji, bukan soal persennya. Tapi soal berapa banyak suara rakyat yang nanti hangus kalau konsepnya hanya PT persen. Sebab, kemarin 4 persen saja yang hangus sampai 17 juta suara. Pernah juga 2,5 persen (Pemilu 2009) malah hangus 19 juta suara," kata Dede mengawali pendapatnya, Minggu (20/9).

Dede mengatakan Demokrat mengusulkan konsep Dapil Nasional atau national pool dalam penerapan pemilu anggota DPR RI. Ia menekankan sisa suara dari partai-partai yang lolos ambang batas bisa dikumpulkan untuk kemudian ditentukan sebagai kursi tambahan di DPR.

Dede kemudian menyinggung soal penggabungan sisa suara (stembus accord) yang pernah digunakan dalam Pemilu 1999. Ia berharap pengkajian konsep tersebut dapat mengurangi sisa suara yang hangus.

"Itu sebabnya Demokrat sejak awal sudah mengusulkan konsep 'Dapil Nasional' (national pool). Di mana sisa suara rakyat dari partai-partai yang lolos threshold nanti akan dikonversi menjadi dapil nasional sehingga tidak ada suara rakyat yang terbuang. Dulu pernah dilakukan model stembus accord," ucapnya.

(wnv/zap)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |