Jakarta -
Tragedi kecelakaan Japan Air Lines Penerbangan 123 (JAL 123) menjadi salah satu kecelakaan yang dipicu kelalaian. Kecelakaan ini dipicu masalah perbaikan yang tak dituntaskan.
Dikutip dari laporan investigasi resmi, kecelakaan terjadi pada tanggal 12 Agustus 1985 di Prefektur Gunma, Jepang.
Kecelakaan bermula ketika pesawat lepas landas dari Bandara Internasional Tokyo (Haneda) menuju Osaka. Pesawat terbang ke ketinggian 24.000 kaki. Namun, kemudian sekat tekanan belakang pecah akibat perbedaan tekanan kabin. Terjadi penurunan tekanan udara drastis dan terdengar suara ledakan keras di kabin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini diikuti dengan sistem autopilot yang mati secara otomatis dan alarm ketinggian kabin berbunyi. Kemudi pesawat tidak lagi merespons instruksi pilot.
Pilot melaporkan pesawat kehilangan kendali dan meminta izin kembali ke Haneda. Pesawat mengalami guncangan tidak stabil berupa gerakan naik-turun dan oleng.
Setelah itu, pesawat jatuh menabrak lereng gunung dalam posisi terbalik (upside down) dengan bagian depan pesawat mengarah ke bawah.
Korban Jiwa Capai 500 Orang Lebih
Kecelakaan ini merupakan salah satu bencana penerbangan tunggal paling mematikan dalam sejarah. Sebanyak 520 orang dinyatakan meninggal dunia (seluruh 15 kru pesawat dan 505 penumpang).
Namun, ada juga yang selamat. Ada 4 orang penumpang yang selamat. Keempat korban selamat adalah perempuan yang duduk di baris kursi belakang yang kebetulan mendapat perlindungan struktur ekor pesawat yang tidak hancur lebur.
Karena Perbaikan Tak Tuntas
Penyebab utama kecelakaan ini adalah pecahnya sekat tekanan belakang pesawat yang tiba-tiba pecah. Pecahnya sekat ini memicu kerusakan berantai berupa runtuhnya sebagian ekor pesawat, hilangnya sayap pesawat.
Kerusakan fatal ini berakar dari perbaikan struktur yang tidak sempurna pada tahun 1978 setelah pesawat mengalami kecelakaan di Bandara Osaka.
Perbaikan tak tuntas ini menurunkan kekuatan sambungan sekat tersebut hingga menjadi 70 persen dari kekuatan aslinya dan menyebabkan akumulasi retakan pecah.
Tonton juga video "Pihak Bandara Buka Suara soal Pesawat Cassa yang Tergelincir"
(rdp/imk)


















































