Kemenbud Bahas Potensi Kerja Sama Kebudayaan dengan Kerajaan Maroko

4 hours ago 3

Jakarta - Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengadakan dialog strategis dengan Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Indonesia, Redouane Houssaini.

Dialog yang bertempat di Gedung Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, tersebut membahas strategi pengembangan ekosistem musik tradisional sekaligus potensi kerja sama bidang budaya antara Indonesia dengan Kerajaan Maroko.

Dalam kesempatan tersebut, Fadli Zon menyambut hangat pelantikan Redouane Houssaini sebagai Duta Besar baru Kerajaan Maroko untuk Indonesia. Fadli menyebutkan Indonesia dan Kerajaan Maroko memiliki hubungan diplomatik yang erat berkat adanya kemiripan historis serta geografis. Menurutnya, kedua aspek tersebut dapat menjadi pilar penguat hubungan bilateral kedua negara yang berlandaskan payung hukum dan relasi strategis.

Fadli menyebutkan bahwa Indonesia dan Kerajaan Maroko dapat memperkuat kolaborasi di bidang budaya, khususnya budaya musik tradisional. Menurutnya, musik Andalusi asal Maroko mempunyai kemiripan dengan musik gambus dari Indonesia, di mana kedua musik tradisional tersebut sarat akan makna spiritual yang menjadi atribut penting bagi masing-masing negara.

"Musik tradisional Andalusi dari Maroko mungkin selaras dengan musik gambus dan kasidah di Indonesia. Ke depannya, Indonesia dan Maroko dapat menjalin kerja sama budaya melalui dua genre musik tersebut. Selain mengadakan pertunjukan musik, kita bisa juga mengundang pemain musik gambus dan musik Andalusi untuk berkolaborasi dalam panggung yang sama," ungkap Fadli Zon dalam keterangan tertulis, Selasa (2/6/2026).

Fadli turut mendorong penguatan diplomasi antara Indonesia dengan Kerajaan Maroko melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang mencakup bidang kebudayaan, ekonomi kreatif hingga pemanfaatan tradisi dan kearifan lokal.

Kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kesepakatan di atas kertas, melainkan dapat segera diimplementasikan melalui berbagai program strategis yang saling menguntungkan. Dengan aksi konkrit, Menbud optimis bahwa kedua negara dapat ekosistem budayanya hingga kancah internasional.

"Penandatanganan MoU dapat dipercepat agar menjadi tindak lanjut dari kooperasi antara Indonesia dengan Maroko. Selain itu, kita juga dapat mencanangkan program-program yang dapat memajukan ekosistem budaya, seperti program residensi seniman, pertunjukan musik tradisional dan konferensi budaya," imbuh Fadli.

Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Indonesia, Redouane Houssaini menjelaskan bahwa terdapat tiga potensi kolaborasi Indonesia-Maroko, yakni penguatan ekonomi berdasarkan budaya, promosi kebudayaan, serta kerja sama institusi seperti museum.

"Kita dapat terus berusaha untuk mempromosikan kebudayaan kita. Melalui persahabatan yang berlandaskan penghormatan, kita dapat melakukan yang terbaik untuk memajukan budaya negara masing-masing," ungkapnya.

Mengakhiri dialog, Menteri Kebudayaan berharap Indonesia dan Kerajaan Maroko dapat terus mengeksplorasi potensi kerja sama di bidang kebudayaan. Melalui implementasi kesepakatan antar kedua negara, hubungan bilateral tersebut diharapkan dapat membawa dampak positif bagi perkembangan industri kreatif dan pelestarian tradisi lokal antara Indonesia dengan Kerajaan Maroko.

Hadir mendampingi Menteri Kebudayaan dalam dialog ini, antara lain Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti, dan Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan, Anindita Kusuma Listya.

Simak juga Video 'Kemenbud Dorong Kawasan Keraton Cirebon Jadi Enklave Budaya Nasional':

(prf/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |