Jakarta -
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memperkuat pengelolaan air limbah di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Hal ini bertujuan guna memastikan program Makan Bergizi Gratis sejalan dengan upaya perlindungan lingkungan hidup.
Upaya tersebut juga sejalan dengan Peraturan Badan Gizi Nasional Nomor 1 Tahun 2026 tentang Pedoman Pengelolaan Sisa Pangan, Sampah, dan Air Limbah Domestik pada SPPG. Aturan ini mewajibkan setiap SPPG mengelola sisa pangan, sampah, dan air limbah yang dihasilkan selama operasional. Regulasi ini juga menegaskan pemenuhan gizi masyarakat harus berjalan beriringan dengan penerapan sanitasi yang baik serta pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab.
Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air KLH/BPLH, Tulus Laksono, menegaskan keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya ditentukan oleh kualitas makanan yang disajikan, tetapi juga bagaimana dampak lingkungannya dikelola.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Program Makan Bergizi Gratis harus memberikan manfaat yang utuh bagi masyarakat. Karena itu, setiap SPPG wajib memastikan air limbah yang dihasilkan dikelola sesuai standar agar tidak menimbulkan pencemaran dan tetap mendukung lingkungan yang sehat bagi generasi penerus bangsa," ujar Tulus dalam keterangan tertulis, Senin (15/6/2026).
Ia menegaskan setiap SPPG wajib memenuhi persyaratan lingkungan hidup, termasuk memastikan air limbah yang dihasilkan telah diolah hingga memenuhi baku mutu sebelum dibuang ke lingkungan.
Untuk mendukung hal ini, pemerintah juga telah menetapkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Nomor 2760 Tahun 2026 tentang Baku Mutu dan Standar Teknologi Pengolahan Air Limbah Domestik pada SPPG.
Seiring bertambahnya jumlah SPPG di berbagai daerah, kebutuhan akan sistem pengelolaan air limbah yang memadai menjadi semakin penting. Aktivitas pengolahan makanan, pencucian bahan pangan, peralatan dapur, hingga kegiatan sanitasi menghasilkan limbah cair yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.
Praktisi pengolahan air limbah dari IPAL Treatment Indonesia, Habibi menjelaskan limbah cair dari kegiatan dapur dan sanitasi umumnya mengandung bahan organik, padatan tersuspensi, amoniak, deterjen, serta minyak dan lemak yang memerlukan pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan.
Berdasarkan Basic Engineering Design (BED) untuk kapasitas pengolahan 10 meter kubik per hari, air limbah dari kegiatan dapur dan sanitasi dapat memiliki kandungan pencemar yang cukup tinggi. Karena itu, keberadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) menjadi kebutuhan penting untuk memastikan kualitas air limbah yang dibuang telah memenuhi baku mutu yang ditetapkan pemerintah.
"Pengelolaan air limbah yang baik dapat mencegah pencemaran sungai, menjaga kualitas sumber daya air, serta menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan nyaman bagi masyarakat," kata Habibi.
Selain melindungi lingkungan, pengelolaan air limbah yang baik juga mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis dengan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaannya. Lingkungan yang bersih dan sehat akan memperkuat manfaat program dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.
Melalui penguatan regulasi, pendampingan teknis, pengawasan, dan penerapan teknologi pengolahan yang sesuai standar, KLH/BPLH memastikan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga selaras dengan upaya perlindungan lingkungan hidup. Dengan demikian, manfaat program dapat dirasakan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kualitas sungai, sumber air, dan lingkungan bagi generasi mendatang.
KLH/BPLH pun mengajak seluruh pengelola SPPG, pemerintah daerah, penyedia teknologi pengolahan air limbah, dan masyarakat untuk memastikan setiap fasilitas pelayanan gizi menerapkan pengelolaan air limbah sesuai ketentuan yang berlaku.
Dengan mengelola air limbah secara benar sejak dari sumbernya, Indonesia tidak hanya membangun generasi yang sehat melalui Program Makan Bergizi Gratis, tetapi juga menjaga kualitas lingkungan dan sumber daya air untuk masa depan.
Tonton juga video "Peneliti Filipina Bikin Bahan Bakar dari Nanas"
(ega/ega)


















































