Jakarta -
PDI Perjuangan dan NasDem sudah bersikap seandainya Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle kabinet. Partai Gerindra menghormati pilihan kedua partai tersebut.
"Ya Gerindra menghormati sikap dan pilihan politik setiap partai-partai politik, apakah mau bergabung dengan pemerintahan atau menjadi penyeimbang," kata Jubir Gerindra Sugiat saat dihubungi, Jumat (18/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sugiat menyebut tak masalah apapun sikap dan pilihan politik setiap partai asalkan tujuannya untuk kepentingan bangsa dan negara serta rakyat.
"Jadi prinsipnya Gerindra menghormati pilihan atau sikap politik kawan-kawan dari PDIP, kawan-kawan dari NasDem," imbuhnya.
Dia juga merespons secara khusus NasDem yang merasa tidak berhak masuk kabinet karena tak ikut berkeringat saat Pilpres 2024. Sugiat mengungkit pernyataan Prabowo soal persatuan.
"Ya kalau kalau Pak Prabowo kan budaya politiknya itu adalah membangun persatuan dan kesatuan. Pak Prabowo kalau dalam konteks kontestasi dia sudah sangat matang, sudah sangat tuntas bahwa ya pada saat kontestasi-kontestasi, pada saat sudah selesai kontestasi, mari bersama-sama dengan pilihan politiknya masing-masing untuk katakanlah memberikan sumbangsih terbaik kepada bangsa," ujar dia.
Lebih lanjut, Sugiat juga merespons pilihan PDIP untuk tetap sebagai penyeimbang. Ia mengatakan Prabowo tetap butuh pihak yang mengkritik dan mengevaluasi.
"Ya bagi kita, kalau Pak Prabowo kan mengatakan dalam dalam ranah demokrasi yang sehat, ya perlu pasti, kritik, masukan, apa ya? Katakanlah evaluasi dari luar pemerintahan yang secara objektif, dan tentu saja akan menambah khazanah pemerintahan dalam menyusun solusi-solusi terbaik untuk pemerintahan. Ya, berkali-kali kan Pak Prabowo mengatakan bahwa posisi PDIP sebagai penyeimbang itu memberikan sumbangsih yang sangat baik dalam demokrasi kita. Ya kita berterima kasihlah untuk itu," jelasnya.
Kemudian untuk konteks reshuffle, Sugiat menyebut kewenangan multak ada di Prabowo. Ia yakin siapapun yang nantinya ditunjuk pasti orang terbaik.
"Saya pikir ya apalagi kalau dalam konteks reshuffle ini kan instrumen yang kewenangannya mutlak kepada presiden. Kita serahkan kepada Bapak Presiden untuk mengevaluasi kapan waktunya dan siapa-siapa orangnya itu menjadi kewenangan mutlak Pak Presiden. Ya, kita berharap pada saat kapan pun nanti dan siapapun yang akan ditunjuk oleh Pak Prabowo sebagai pembantunya di kabinet, pastilah orang yang terbaik, apakah orang dari partai maupun orang dari luar partai," tutur dia.
(maa/gbr)
















































