Analisis Pakar soal Dentuman di Bandung Diduga dari Erupsi Anak Krakatau

1 day ago 10
Jakarta -

Warga Bandung, Jawa Barat (Jabar), mendengar bunyi dentuman misterius sejak tengah malam. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan dentuman itu terkait erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda.

Daryono mengatakan suara erupsi Gunung Anak Krakatau bisa terdengar jauh hingga wilayah Bandung karena faktor lapisan inversi suhu, yaitu tertindihnya lapisan udara dingin oleh lapisan udara yang lebih hangat di atmosfer. Dentuman yang terdengar pada jarak jauh juga dipengaruhi topografi di Bandung.

"Dengan topografi yang berbentuk cekungan yang dikelilingi pegunungan menjadikan kawasan ini rentan dilingkupi inversi suhu pada kondisi tertentu, yaitu ketika udara dingin terperangkap di lembah dan lapisan udara hangat menutupinya dari atas," kata Daryono, Sabtu (5/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengatakan daerah Bandung merupakan salah satu dari sekian banyak daerah di Indonesia yang rentan terhadap terbentuknya lapisan inversi. Lapisan inversi membuat suara letusan Gunung Anak Krakatau terdengar di Bandung yang jaraknya ratusan kilometer (km).

"Pada saat Cekungan Bandung tertutupi lapisan inversi, seolah terbentuk 'lorong raksasa'. Cukup dengan fenomena erupsi sangat aktif di Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, maka dentuman GAK akan menjalar di sepanjang lembah dan terpantul berulang-ulang mirip terbentuknya gema seperti dilaporkan sebagian warga Bandung pagi dini hari tadi," katanya.

Menurutnya, topografi punya peran penting dalam mengembangkan dan menahan lapisan inversi. Udara dingin dapat terakumulasi di cekungan lembah atau dataran rendah di pantai pada kondisi cuaca tertentu. Sehingga daerah dengan morfologi semacam ini rentan terjadinya fenomena inversi di saat musim hujan.

Anggota IABI, Daryono, mengatakan suara erupsi Gunung Anak Krakatau bisa terdengar jauh hingga wilayah Bandung karena faktor lapisan inversi suhu. (dok Pribadi/Daryono)Anggota IABI, Daryono, mengatakan suara erupsi Gunung Anak Krakatau bisa terdengar jauh hingga wilayah Bandung karena faktor lapisan inversi suhu. (dok Pribadi/Daryono)

Tak Dipengaruhi Arah Angin

Dia mengatakan kejadian serupa saat suara dentuman misterius yang beberapa kali terjadi di berbagai daerah juga diduga kuat disebabkan keberadaan lapisan inversi di atmosfir. Dia menjelaskan, perambatan suara (gelombang akustik) tidak dipengaruhi arah embusan angin.

"Gelombang akustik dari Gunung Anak Krakatau tetap dapat menjangkau Bandung meskipun angin permukaan bertiup dari timur ke barat karena gelombang tersebut merambat ke lapisan atmosfer atas (stratosfer), di mana pola angin dan temperatur di ketinggian tersebut membengkokkan kembali gelombang infrasonik berenergi tinggi itu ke arah bawah menuju daratan, sehingga dapat melompati hambatan angin lokal di permukaan bumi," jelasnya.

Selain memantulkan gelombang akustik biasa, lapisan inversi juga berkemampuan memantulkan gelombang mekanik dan akustik ekstrem dalam bentuk gelombang kejut. Sehingga dapat menyebarkan suara dan efek getaran di wilayah yang lebih jauh.

Lapisan inversi juga dapat membuat suara lebih keras hingga terdengar di tempat sangat jauh. Ibarat kita membunyikan klakson mobil di garasi yang tertutup, tentu lebih keras dibanding bunyi klakson di jalan raya. Ini karena suara terjebak pada ruang sempit.

Secara teori, suara adalah gelombang akustik yang sudah terbukti dapat dipantulkan lapisan inversi. Dalam kondisi inversi suhu, gelombang suara akan dibiaskan ke bawah, dan oleh karena itu dapat terdengar pada jarak yang sangat jauh.

"Inilah konsep dasar mengapa lapisan inversi dapat membuat suara letusan terdengar hingga jauh karena proses multi refleksi. Suara letusan jika sudah jauh dan dalam kondisi atmosfer tertentu dapat berubah 'anatominya' sehingga tidak lagi seperti suara letusan asli di sumbernya, tetapi dapat mirip dentuman," jelasnya.

Contoh Kasus Inversi

Daryono mengatakan, lapisan inversi telah dikenal sebagai salah satu faktor yang menyebabkan bencana kabut asap di sejumlah negara. Peristiwa kabut asap yang parah pada tahun 1948 di Donora, Pennsylvania, (AS) dan pada tahun 1952 di London, Inggris, diakibatkan peningkatan lapisan inversi di atmosfer. Bencana kabut asap London berlangsung selama seminggu dan menelan korban jiwa hingga 12.000 orang.

"Akan tetapi gas dan partikulat polutan bukanlah satu-satunya yang disekap oleh lapisan inversi. Beberapa orang dilaporkan mendengar suara aneh selama terbentuknya lapisan inversi di atmosfer. Gelombang suara yang bersumber dari kereta api, mobil, petir, dan sumber suara lainnya dapat terpantul dari lapisan inversi sehingga terdengar di tempat lain," katanya.

Dia mengatakan kondisi itu terjadi karena lapisan inversi berperan sebagai pemantul kurang sempurna bagi gelombang akustik, gelombang radio dan bahkan cahaya.

Selain itu, fenomena lapisan inversi juga berdampak merusak saat Uni Soviet melakukan uji coba ledakan nuklir di Semipalatinsk pada 22 November 1955. Ujicoba tersebut menggunakan peledak RDS-37 yang berkekuatan 1,6 megaton TNT.

"Normalnya gelombang kejut produk ledakan takkan merusak lagi setelah menempuh jarak lebih dari 25 km. Namun keberadaan lapisan inversi membuat gelombang kejut terpantul-pantul berulang kali sehingga masih bisa merusak bangunan kota Kurchatov yang sejauh 65 kilometer. Dampaknya, jendela-jendela kaca rumah warga pecah, bangunan rumah roboh menyebabkan 3 orang meninggal dan banyak orang mengalami luka-luka di kota tersebut," urainya.

Contoh lain kasus ledakan yang terjadi saat terbentuk lapisan inversi yang berdampak fatal pernah terjadi di Esparto, California. Selama pembuatan film Mythbusters pada 6 Desember 2011 melibatkan sebuah ledakan. Tak diduga ledakan ini malah menghancurkan jendela-jendela kaca rumah warga di sebuah kota yang jaraknya lebih dari 2 km dari sumber ledakan akibat gelombang kejut yang dipantulkan kembali ke bawah oleh lapisan inversi.

Ilustrasi konseptual dari Badan Geologi soal dentuman dari Anak Krakatau terdengar hingga Bandung (dok Badan Geologi)Ilustrasi konseptual dari Badan Geologi soal dentuman dari Anak Krakatau terdengar hingga Bandung (dok Badan Geologi)

Paparan Badan Geologi PVMBG

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Rita Susilawati, menjelaskan alasan suara dentuman yang terdengar hingga Bandung diduga berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau. Menurutnya, energi akustik dari erupsi bisa merambat hingga ratusan kilometer.

"Jadi, kalau dari pengamatan yang kami lakukan, tidak hanya untuk Anak Krakatau, tetapi juga beberapa gunung api lainnya di Indonesia, ketika erupsi besar terjadi gitu ya, atau tidak hanya erupsi besar, erupsi dengan tipe tertentu, karena kalau tipe tuh phreatic ini memang biasanya disertai dentuman yang nyaring," kata Rita dalam konferensi pers dilihat YouTube Badan Geologi, Sabtu (5/9).

"Untuk penyebabnya tadi seperti kami sampaikan, kami memang menduga nih suara yang tadi karena berhubungan dengan erupsi Anak Krakatau yang terjadi tadi malam, dugaan kuatnya memang itu berhubungan dengan gunung api Anak Krakatau," sambungnya.

Tonton juga video "Gunung Anak Krakatau Erupsi, Warga Diimbau Pakai Masker"

(jbr/dhn)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |