Waka MPR Dorong Penanganan Bencana Rob Demak Jadi Prioritas

5 hours ago 3

Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bencana rob dan genangan permanen melanda Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, harus ditangani secara menyeluruh. Persoalan ini dinilai mendesak dan perlu menjadi prioritas nasional.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara penyerapan aspirasi masyarakat MPR RI bertajuk ' Percepatan dan Pemerataan Pembangunan Daerah: Tantangan Ekologi dan Infrastruktur' di Hotel Amantis, Demak, Senin (22/6/2026).

Dalam sambutannya, Lestari menyoroti pembangunan infrastruktur seperti jalan Tol Semarang-Sayung. Meskipun bertujuan mempercepat akses pembangunan, proyek tersebut dinilai telah menimbulkan dampak lingkungan yang masif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perempuan yang akrab disapa Rarie ini menjelaskan kawasan Sayung secara historis merupakan wilayah selat yang sejak era kolonial Belanda tidak dibangun karena pertimbangan geologis. Namun saat ini, kawasan tersebut mengalami tekanan berat akibat pembangunan infrastruktur dan perubahan iklim.

"Kalau kita bicara konteks Demak, wilayah Sayung dan desa-desa di sekitarnya ini sudah masuk kategori bencana permanen, bukan lagi cuma banjir rob," tegas Rerie dalam keterangannya, Senin (22/6/2026).

Legislator asal daerah pemilihan (dapil) II Jawa Tengah ini mengungkapkan berdasarkan data yang dihimpun, bencana tersebut telah menyebabkan 6.600 hetare wilayah Demak tergenang. Kondisi ini berdampak langsung pada sekitar 15.000 kepala keluarga.

Banyak warga yang harus kehilangan lahan pertanian. Mereka pun terpaksa beralih menjadi petani tambak tanpa bekal pengetahuan yang memadai, sehingga pendaoatan hariannya tidak stabil.

Menghadapi situasi ini, Anggota Komisi X DPR RI itu menawarkan dua opsi. Opsi pertama adalah relokasi yang dinilai sangat sulit direalisasikan saat ini. Opsi kedua, mendorong upaya adaptasi dengan mempersiapkan warga terdampak melalui berbagai program.

"Misalnya, lahan pertanian yang tidak bisa ditanami, kita bicarakan dengan pemerintah untuk mengusahakan padi jenis biosalin. Atau, sawah yang berubah menjadi genangan difungsikan menjadi tambak. Namun, ternyata urusan perizinan mengubah sawah menjadi tambak juga tidak sederhana," paparnya.

Lebih lanjut, Rarie mengkritisi solusi jangka pendek berupa peninggalan badan jalan. Hal ini dinilai hanya memindahkan masalah karena limpasan air akan tetap kembali merendam pemukiman warga. Ia pun meminta Pemerintah Daerah dan DPRD setempat untuk berani mengambil kebijakan administratif yang lebih progresif.

Selain aspek infrastruktur dan ekonomi, Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menyoroti pentingnya edukasi lingkungan. Ia mendorong adanya restorasi ekologis berbasis alam, seperti penanaman mangrove sebagai penahan abrasi serta pengelolaan sampah sistematis.

"Ini sudah bencana dan kita tidak bisa membiarkan. Kalau pendekatannya selalu normatif, persoalan ini tidak akan selesai. Yang hilang di Sayung bukan hanya tanah, tetapi ruang hidup, kepastian, dan masa depan," pungkas Rerie.

Sebagai informasi, hadir pada kesempaan tersebut tokoh masyarakat Demak Mugiyono, sejumlah Anggota DPRD Kabupaten Demak dari Fraksi Partai NasDem (Sulkan, Ibrahim Suyuti, Martono, Muh Safii, dan Endang Susilowati), hingga tokoh lainnya seperti Tri Wahyu Habsari dan Nandy Ikhtiar Indonesia. Kegiatan ini juga menampung aspirasi perwakilan warga dari belasan kecamatan setempat.

(akd/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |