Uji Coba Rudal China dan Dilema Baru Negara-Negara Kepulauan Pasifik

11 hours ago 8

loading...

Negara-negara kepulauan Pasifik menghadapi dilema baru atas tindakan China menguji coba rudal balistik antarbenua berkempuan nuklir di Samudra Pasifik bulan lalu. Foto/Kementerian Pertahanan Nasional China via CNN

JAKARTA - Pasifik selama ini kerap dibayangkan sebagai Ocean of Peace, kawasan yang ingin menjaga perdamaian dan keamanan tanpa terseret persaingan kekuatan-kekuatan besar. Namun, gambaran tersebut menghadapi tantangan ketika aktivitas militer China, Amerika Serikat, Australia, dan negara-negara mitranya semakin intensif.

Uji coba rudal balistik berkemampuan nuklir China ke wilayah Pasifik pada Juli lalu menjadi salah satu gambaran terbaru mengenai perubahan tersebut.

Baca Juga: China Tembakkan Rudal Antarbenua Berkemampuan Nuklir, 6 Negara Protes

“Peluncuran itu merupakan uji coba rudal balistik pertama China yang dilakukan ke Pasifik sejak September 2024,” ujar analisis geopolitik Paul Antonopoulos, seperti dikutip dari Greek City Times, Selasa (18/8/2026).

Uji coba tersebut berlangsung hanya beberapa jam setelah Fiji dan Australia menandatangani perjanjian pertahanan besar. Bagi Fiji, kesepakatan itu menjadi aliansi formal pertahanan pertamanya.

Kebetulan waktu tersebut memperlihatkan semakin kuatnya persaingan pengaruh yang melibatkan China, Amerika Serikat, Australia, dan mitra-mitra mereka di kawasan Pasifik.

Namun, persoalan tidak berhenti pada uji coba rudal tersebut. Lebih dari sebulan setelah peluncuran, para menteri luar negeri negara-negara kepulauan Pasifik bahkan belum mampu menyepakati pernyataan bersama untuk mengkritik tindakan China.

“Padahal, sejumlah pemimpin negara Pasifik telah menyampaikan kekhawatiran terhadap meningkatnya aktivitas militer di kawasan,” sebut Antonopoulos.

Menteri Luar Negeri Papua Nugini Justin Tkatchenko menyebut peluncuran rudal China sebagai tindakan yang “sangat tidak pantas". Namun, dia juga mengakui bahwa China merupakan sahabat dan mitra dekat negaranya serta telah memberikan pemberitahuan sebelumnya mengenai uji coba tersebut.

China sendiri menyatakan latihan tersebut berlangsung aman dan memperingatkan agar uji coba itu tidak ditafsirkan secara berlebihan.

Aktivitas Militer Meningkat

Menurut Antonopoulos, uji coba China tersebut merupakan bagian dari peningkatan aktivitas militer di Pasifik sepanjang setahun terakhir.

Kawasan tersebut semakin menjadi arena persaingan strategis antara Beijing dan Washington. Pengerahan kapal perang dan latihan tembak langsung China di Laut Tasman berlangsung beriringan dengan latihan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya di sekitar Guam dan Hawaii.

Kunjungan kapal perang serta berbagai kemitraan keamanan baru juga semakin banyak bermunculan.

Amerika Serikat sendiri mempertahankan kehadiran militer yang signifikan di Hawaii, Guam, dan Kepulauan Marshall.

Bagi pemerintah negara-negara Pasifik, situasi tersebut menghadirkan dilema.

Kerja sama keamanan dengan negara-negara besar dapat memberikan kemampuan yang dibutuhkan, mulai dari pengawasan, respons bencana, kepolisian hingga pelatihan.

“Namun, pada saat yang sama, semakin banyak kerja sama pertahanan juga meningkatkan risiko wilayah dan perairan Pasifik terseret ke dalam persaingan China dan negara-negara Barat,” ungkap Antonopoulos.

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |