loading...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan Selasa (18/6). FOTO/dok.SindoNews
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan Selasa (18/6), tertekan sentimen eksternal menyusul kembali memanasnya harga minyak dan ketidakpastian konflik Iran-Amerika Serikat (AS). Rupiah tercatat turun 64 poin atau 0,36% ke level Rp17.862 per dolar AS.
Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah salah satunya berasal dari kenaikan harga minyak setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington tidak akan mengupayakan perpanjangan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran yang berakhir pada Senin (17/8).
"Trump menegaskan kembali bahwa AS memegang kendali penuh atas Hormuz dan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, klaim yang keduanya dibantah oleh pihak Iran," kata Ibrahim dalam risetnya, Selasa (18/8/2026).
Baca Juga: Negara Arab Nekat Jalankan Kapal Hantu Tanpa Sinyal, Harga Minyak Batal Tembus USD150/Barel
Menurut Ibrahim, ketegangan tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global. Iran bahkan disebut akan beralih ke postur militer yang lebih ofensif setelah upaya negosiasi untuk mengakhiri perang dengan AS menemui jalan buntu, sementara Washington menolak memperpanjang gencatan senjata sementara.
Ketegangan di kawasan juga meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim kembali menyerang kapal militer dan empat kapal pengawal Saudi di Laut Merah menggunakan rudal. Di sisi lain, Iran dan Oman disebut telah mengisyaratkan adanya pembicaraan mengenai jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, meski belum terdapat kesepakatan konkret.
Ibrahim menilai risiko inflasi akibat kenaikan harga energi membuat pelaku pasar belum sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga AS pada akhir tahun. “Para pelaku pasar kini menantikan risalah rapat FOMC bulan Juli yang akan dirilis hari Rabu untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed,” ujarnya.
Dari dalam negeri, harga minyak mentah yang berada di atas USD83 per barel turut meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi. Kenaikan permintaan dolar AS untuk membayar impor minyak mentah di pasar global berpotensi memperkuat dolar sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.


















































