Sejarah Ondel-ondel, Boneka Raksasa Khas Betawi yang Jadi Ikon Jakarta

2 hours ago 5
Jakarta -

Masyarakat pasti sudah tidak asing dengan ondel-ondel. Bukan cuma sekadar boneka raksasa yang sering bikin takut waktu kecil, ondel-ondel khas Betawi ini ternyata menyimpan filosofi mendalam.

Bersumber dari Pemprov DKI Jakarta, dulu, masyarakat Betawi menciptakan ondel-ondel sebagai simbol penjaga yang dipercaya dapat menangkal gangguan dan juga melindungi warga dari marabahaya. Ondel-ondel selalu hadir berpasangan, di mana yang laki-laki berwajah merah melambangkan keberanian dan kekuatan, sedangkan yang perempuan berwajah putih melambangkan kebaikan dan kesucian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ondel-ondel is a form of folk performance using large puppets. It originated from Betawi, Indonesia and is often performed in festivals. The word ondel-ondel refers to both the performance and the puppet.Ondel-ondel (Foto: Getty Images/benito_anu)

Di atas kepalanya, ada hiasan warna-warni yang disebut kembang kelapa yang melambangkan harapan, kemakmuran, dan kehidupan yang terus tumbuh. Boneka raksasa khas Betawi ini dulu memang memiliki wajah yang terkesan sangar bahkan bertaring. Seiring waktu, tampilannya dibuat lebih bersahabat.

Meski begitu, maknanya tetap sama, yakni sebagai simbol perlindungan. Kini, ondel-ondel berkembang menjadi salah satu ikon budaya Betawi yang sering hadir dalam berbagai perayaan. Bahkan, di beberapa kawasan Jakarta, kita masih bisa menjumpai ondel-ondel keliling dengan diiringi musik khas Betawi.

Berdasarkan catatan detikcom, ondel-ondel kerap muncul ketika perayaan hari ulang tahun Kota Jakarta. Kerangka ondel-ondel terbuat dari anyaman bambu sehingga ringan dipikul. Bagian kepalanya lalu dibuat topeng, sedangkan rambutnya terbuat dari ijuk yang dibalut dengan kertas berwarna-warni sehingga mirip dengan rambut.

Boneka raksasa asli Betawi ini dalam proses pembuatannya biasanya disediakan sesajen, antara lain bubur merah-putih, rujak-rujakan tujuh rupa, bunga-bungaan tujuh macam, dan membakar kemenyan.

Peserta menampilkan ondel-ondel saat perayaan Syukur 218 Tahun Keuskupan Agung Jakarta 2025 di Gereja Katedral, Jakarta, Sabtu (10/5/2025). Keuskupan Agung Jakarta menggelar perayaan syukur HUT ke-218 dengan kegiatan jalan santai kerukunan dan kebhinnekaan lintas iman, hiburan, ondel-ondel dan tari tradisional yang diikuti oleh 3.500 peserta. ANTARA FOTO/Bayu Pratama SOndel-ondel ditampilkan saat perayaan Syukur 218 Tahun Keuskupan Agung Jakarta 2025 di Gereja Katedral, Jakarta beberapa waktu lalu. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama)

Ondel-ondel yang sudah jadi juga disediakan sesajen dan dibakari kemenyan. Termasuk membacakan mantera-mantera kepada roh halus yang dianggap menunggu dalam boneka besar itu.

Ondel-ondel juga kerap dihadirkan dalam seni pertunjukan. Ondel-ondel tidak berjalan sendiri tanpa adanya musik pengiring khas Betawi. Biasanya ada gendang, kentongan, rebana, gong, biola Betawi, sampai pertunjukan pencak silat.

Pemprov DKI Jakarta juga melarang ondel-ondel digunakan untuk mengemis. Larangan itu diterapkan sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan budaya Betawi.

(kny/jbr)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |