Resmikan Pameran Jejak Pajajaran, Menbud Dorong Pelestarian Budaya Sunda

3 hours ago 2

Jakarta -

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon meresmikan pameran bertajuk 'Jejak Pajajaran: Kuasa, Pusaka dan Ajaran Sunda' di Bumi Ageng Batutulis, Kota Bogor. Pameran kolaborasi bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor ini digelar sebagai upaya pelestarian nilai sejarah dan kebudayaan di bidang permuseuman dan pameran.

Fadli menyampaikan ekshibisi Jejak Pajajaran: Kuasa, Pusaka dan Ajaran Sunda merupakan gagasan untuk mengenal kujang dan keris sebagai ekspresi budaya Tanah Sunda. Ia menilai pameran tersebut dapat menjadi wadah untuk menggambarkan berbagai temuan sejarah lainnya, termasuk perkembangan sejarah Kota Bogor dan wilayah sekitarnya.

"Pameran dan aktivasi Museum Pajajaran ini bisa menjadi langkah pertama kita untuk membuat satu museum yang lebih komprehensif, seperti dari storyline-nya terkait era yang disebut sebagai prasejarah atau sejarah awal dari Tanah Sunda. Tentu masih banyak juga temuan-temuan lain yang menjadi rangkaian sejarah di Tanah Sunda, termasuk kehidupan sejarah kota Bogor dan wilayah sekitarnya yang bisa digambarkan di museum ini," ungkap Fadli dalam keterangan tertulis, Kamis (5/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fadli menegaskan ekosistem budaya dan seni, terutama kebudayaan Sunda, tidak dapat berjalan sendiri. Menurutnya, pelestarian budaya melalui pameran dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam melestarikan ekosistem kebudayaan berkelanjutan.

Ia pun menegaskan kolaborasi erat antara pemerintah, komunitas dan masyarakat merupakan kunci utama dalam menghidupkan nilai-nilai luhur sejarah di Tanah Pasundan.

"Pameran pusaka ini merupakan wadah kolaborasi bersama. Para seniman dan budayawan yang ada di Bogor juga diharapkan ikut menyumbang koleksi pameran di Museum Pajajaran ini, baik itu berupa tosan aji, pusaka, dan kujang. Kemudian dari koleksi Museum Nasional, bisa kita lakukan pinjaman jangka panjang. Begitu juga dengan artefak-artefak yang lain, dengan kurasi yang juga tentu harus baik," jelas Fadli.

Lebih lanjut, Fadli menegaskan Bumi Ageng Batutulis dapat menjadi kantong budaya atau cultural enclave budaya Sunda. Guna mendukung gagasan tersebut, ia menjelaskan Bumi Ageng Batutulis akan menyediakan sejumlah sarana pendukung, seperti ruangan pameran dan amfiteater.

Melalui pameran Warisan Adiluhung Kujang dan Keris Pasundan dari Masa ke Masa, Fadli berharap ke depannya akan muncul museum-museum baru yang dapat menjadi etalase kebudayaan nusantara.

"Semoga nantinya Museum Pajajaran ini bisa menjadi tempat untuk belajar sejarah dan budaya, terutama untuk adik-adik kita dan generasi muda," ucap Fadli.

Senada, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan berharap Bumi Ageng Batutulis sebagai cikal bakal Museum Pajajaran dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

"Selain itu, mudah-mudahan museum yang ada di seluruh Indonesia bisa segera kita revitalisasi," papar Restu.

Sementara itu, Wali Kota Bogor mengapresiasi langkah Kementerian Kebudayaan RI dalam melestarikan budaya dan sejarah Tanah Pajajaran.

"Di Bumi Ageng Batutulis ini nanti kita juga kembangkan amfiteater dan sarana lain untuk pendidikan anak cucu kita supaya lebih mengenal sejarah Pakuan Pajajaran," ungkapnya.

Sebagai informasi, pameran 'Jejak Pajajaran: Kuasa, Pusaka dan Ajaran Sunda' merupakan eksibisi yang lahir untuk menelusuri kembali kejayaan Kerajaan Sunda sebagai sumber nilai dan pengetahuan. Berlangsung pada tanggal 5 - 9 Februari 2026, pameran ini menampilkan ragam koleksi keris yang menggambarkan linimasa sejarah Tanah Pajajaran.

Beragam aktivitas pun turut memeriahkan rangkaian acara, seperti lokakarya membuat keris dan janur, konservasi keris, serta bursa tosan aji yang dapat diikuti oleh masyarakat umum. Terdapat pula seminar storyline dan koleksi Museum Pajajaran yang menghadirkan narasumber ahli, yaitu Prof. Agus Aris Munandar dan Prof. Cecep Eka Permana.

(anl/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |