Depok -
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Depok memberlakukan kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar dari Rumah (BDR) selama dua hari. Kebijakan ini menyusul dampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.
"Depok ngambil kebijakan ini belajar dari rumah (BDR) ya, PJJ dua hari ya, Senin-Selasa. Sambil dievaluasi nanti perkembangannya seperti apa, mudah-mudahan membaik ya," kata Kadisdik Kota Depok Wahid Suryono saat dihubungi wartawan, Minggu (6/9/2026).
Dia mengatakan pengumuman ini berlaku untuk satuan pendidikan jenjang PAUD/TK, SD, dan SMP negeri maupun swasta di Kota Depok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iya, PAUD sampai SMP kami. Kalau yang SMA nanti ada edaran dari apa, Disdik Provinsi ya. Malam ini juga sedang disiapkan edarannya," tuturnya.
Wahid mengimbau pelajaran untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Dia juga meminta masyarakat menggunakan masker apabila di luar ruangan.
"Jadi, hanya memang harus membatasi aktivitas di luar ruangan. Jadi kalau keluar ruangan pakai masker, jadi sebaiknya tetap di dalam rumah ya. Karena bagaimanapun kan ya debunya halus ya, jadi khawatir nanti mengganggu kesehatan," kata dia.
"Jadi kalau aktivitas sebaiknya sih aktivitas dibatasi di dalam rumah, jangan jangan keluar anak-anak. Jadi belajar aja di rumah, kalaupun nanti perlu keluar sebaiknya menggunakan masker, gitu," tutupnya.
Sebaran Abu Anak Krakatau
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menguraikan sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. BMKG menyebut sebaran abu mencapai wilayah Lampung hingga sebagian Jakarta.
BMKG memaparkan data sebaran abu vulkanik per pukul 04.00 WIB. Lembaga tersebut mengidentifikasi dua klaster sebaran abu Gunung Anak Krakatau.
"Berdasarkan informasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada 6 September 2026 pukul 04.00 WIB, teridentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau," tulis BMKG dalam situs resminya.
Klaster pertama mengarah ke Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Sebaran abu pada klaster ini mencapai ketinggian 20.000 kaki.
"Sebaran dari permukaan hingga ketinggian 20 ribu ft teramati ke arah timur laut-selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat serta perairan sekitarnya," jelasnya.
(dvp/wnv)


















































