Megawati Bicara Pemberdayaan Perempuan di Islam, Cerita soal Khadijah-Aisyah

3 hours ago 2

Riyadh -

Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri, berbicara mengenai pemberdayaan perempuan dalam Islam saat menyampaikan pidato akademiknya di Princess Nourah Bint Abdulrahman University (PNU), Riyadh, Arab Saudi. Megawati mengatakan konsep pemberdayaan perempuan itu berkaitan dengan keadilan.

"Dalam Islam, pemberdayaan perempuan tidak dapat dilepaskan dari konsep amanah dan keadilan. Islam mengajarkan bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak istimewa. Amanah menuntut pertanggungjawaban. Amanah menuntut keadilan," kata Megawati dalam pidato saat menerima gelar doktor kehormatan di PNU, Riyadh, Senin (9/2/2026).

Ketua Umum PDIP itu menyampaikan Al-Qur'an telah mengajarkan tentang prinsip kesetaraan manusia. Megawati mengutip surat An-Nisa ayat 1.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Allah subhanahu wa ta'ala menyatakan bahwa seluruh manusia diciptakan dari satu jiwa yang sama. Prinsip ini menjadi dasar teologis bahwa perempuan dan laki-laki setara dalam martabat kemanusiaan," ujar dia.

Dia juga mengutip Surat Al-Hujurat ayat 13, yang menurutnya kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, suku, atau kedudukan sosial, melainkan oleh ketakwaan dan tanggung jawab moral.

"Prinsip-prinsip ini tidak berhenti pada teks. Sejarah Islam menunjukkan praktik yang nyata," tutur Megawati.

Megawati lalu menceritakan peran perempuan dalam masa awal Islam. Perempuan berkiprah di berbagai lini, mulai pengusaha hingga periwayat hadis.

"Kita mengenal Khadijah binti Khuwailid sebagai pengusaha yang mandiri, sekaligus mitra intelektual dan moral Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassalam. Kita mengenal Aisyah binti Abu Bakar sebagai periwayat hadis dan rujukan keilmuan yang menjadi sumber pengetahuan umat hingga hari ini," tutur Megawati.

"Kita mengenal Ummu Salamah yang pemikirannya didengar dalam pengambilan keputusan penting umat Islam. Kita juga mengenal Nusaibah binti Ka'ab yang menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam menjaga komunitas muslim pada masa awal Islam," sambung dia.

Bagi Megawati, Islam tidak pernah memosisikan perempuan sebagai pihak yang harus disingkirkan. Justru, menurut dia, perempuan mendapatkan terhormat dalam Islam.

"Perempuan hadir sebagai penjaga nilai, penopang moral dan keadilan, dan penggerak peradaban," kata Megawati.

Perjalanan Politik Megawati

Dalam orasi ilmiah itu, Megawati juga menceritakan pengalaman panjangnya di politik, mulai anggota DPR, Ketua Umum PDIP, wakil presiden, hingga presiden. Megawati menekankan soal dia merupakan presiden perempuan pertama di Indonesia.

"Hingga saat ini, saya juga memimpin Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Sebuah lembaga kenegaraan yang bertugas menguatkan dasar negara dan ideologi bangsa kami, yakni Pancasila. Sekaligus memimpin Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), tempat para ilmuwan terbaik kami melakukan riset dan inovasi nasional. Dua lembaga kenegaraan tersebut menjadi bagian dari pemerintahan Republik Indonesia," beber dia.

Dari pengalaman tersebut, Megawati mengatakan ada satu pelajaran jelas yang diambilnya, yaitu pemerintahan yang adil dan efektif tidak dapat dibangun dengan mengecualikan perempuan.

"Justru sebaliknya, kualitas pemerintahan sangat ditentukan oleh sejauh mana perempuan dilibatkan secara bermakna dalam pengambilan keputusan," imbuh dia.

(knv/whn)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |