loading...
Kisah Qabil dan Habil merupakan tragedi pembunuhan pertama dalam sejarah manusia, yang diabadikan Allah SWT dalam Al Quran. Peristiwa itu, melibatkan dua putra Nabi Adam alaihissalam. Foto ilustrasi/ist
Kisah Qabil dan Habil merupakan tragedi pembunuhan pertama dalam sejarah manusia. Peristiwa yang melibatkan dua putra Nabi Adam 'alaihissalam ini diabadikan Allah SWT dalam Al-Qur'an sebagai pelajaran agar manusia menjauhi sifat dengki, iri hati, dan permusuhan yang dapat berujung pada pertumpahan darah.
Tragedi pembunuhan antarsaudara ini menjadi bukti bahwa kedengkian dapat mengalahkan akal sehat dan mengantarkan seseorang melakukan dosa besar. Fenomena serupa masih sering terjadi hingga kini, ketika perselisihan, kebencian, dan hasutan berkembang menjadi konflik yang merenggut nyawa.
Penyebab Qabil Membunuh Habil
Kisah Qabil dan Habil dijelaskan oleh para ulama, di antaranya Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim. Penjelasan tersebut juga disampaikan Ustaz Muhammad Saiyid Mahadhir dalam salah satu kajiannya.
Dikisahkan, Sayyidah Hawa, istri Nabi Adam 'alaihissalam, setiap kali melahirkan dikaruniai sepasang anak kembar, laki-laki dan perempuan. Pada masa itu, syariat memperbolehkan pernikahan antarsaudara dari pasangan kembar yang berbeda karena manusia di bumi masih sangat sedikit.
Aturannya, seorang laki-laki tidak menikahi saudara perempuan yang lahir bersamanya, melainkan menikahi saudara perempuan dari pasangan kembar lainnya.
Baca juga: Pembunuhan : Dosa Besar Kedua Setelah Syirik, Ini Dalil Al Quran dan Hadisnya
Ketika Nabi Adam memiliki putra bernama Qabil dan Habil, masing-masing juga mempunyai saudara perempuan kembar. Menurut riwayat, saudari kembar Qabil memiliki paras yang lebih cantik dibanding saudari kembar Habil.
Sesuai ketentuan yang berlaku saat itu, Habil berhak menikahi saudari kembar Qabil. Namun Qabil menolak karena ia ingin tetap menikahi saudari kembarnya sendiri. Perselisihan inilah yang kemudian memicu konflik di antara keduanya.
Kurban Menjadi Penentu
Untuk menyelesaikan perselisihan tersebut, Nabi Adam memerintahkan kedua putranya mempersembahkan kurban kepada Allah SWT. Siapa yang kurbannya diterima, dialah yang berhak menikahi saudari kembar Qabil.
Habil yang berprofesi sebagai penggembala mempersembahkan hewan ternak terbaiknya dengan penuh keikhlasan. Sementara Qabil, yang bekerja sebagai petani, justru memberikan hasil panen yang kualitasnya kurang baik.
Allah SWT menerima kurban Habil, sedangkan kurban Qabil ditolak. Penolakan itu membuat Qabil dipenuhi rasa iri dan dengki hingga muncul niat menghabisi nyawa adiknya sendiri.
Habil Memilih Jalan Damai
Meski mengetahui ancaman tersebut, Habil tidak membalas dengan kekerasan. Ia memilih bersabar dan menyerahkan urusannya kepada Allah SWT.

















































