Kisah Difabel Tuli Perdana Dengar Takbiran: Dulu Duniaku Sangat Sunyi

15 hours ago 5

Jakarta -

Seorang difabel tuli asal Padang, Sumatera Barat (Sumbar) Tekad Isra (29), sangatlah kuat untuk memperbaiki hidupnya. Isra rela merantau hingga menjadi peserta pelatihan di Sentra Terpadu Inten Soeweno (STIS), Cibinong, Kabupaten Bogor, binaan Kementerian Sosial RI (Kemensos).

"Aku tidak mau pulang sebelum bisa bawa uang untuk orang tuaku," ungkap Isra, dalam keterangan tertulis, Minggu (22/3/2026).

Isra meninggalkan rumah dan kedua orang tuanya demi satu tujuan, yaitu menjadi mandiri. Lulusan SLB YPPLB Padang pada 2016 lalu itu merupakan penyandang disabilitas tuli sejak lahir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak kecil, ia hidup dalam dunia yang sunyi, mengandalkan penglihatan dan bahasa isyarat untuk memahami lingkungan sekitar.

Namun keterbatasan tidak membuatnya berhenti. Isra dikenal sebagai pribadi yang tekun dan disiplin. Di lingkungan pelatihan, ia menjalani setiap aktivitas dengan sungguh-sungguh, mulai dari workshop hingga kehidupan di asrama.

Isra juga aktif membantu teman-teman sesama tuli, khususnya dalam mengatasi kesulitan komunikasi. Sebagai anak tunggal, Isra ingin membalas perjuangan orang tuanya. Ayahnya bekerja sebagai buruh, sementara ibunya membuka warung kecil.

Dukungan keluarga menjadi alasan kuat baginya untuk terus melangkah, meski harus merantau jauh. Sebelum mengikuti pelatihan, Isra pernah bekerja di pusat perbelanjaan sebagai staf gudang yang menangani stock opname di Kota Padang.

Pengalaman itu menjadi bekal awal, sekaligus memperkuat keinginannya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan stabil.

Perjalanannya menuju titik ini tidak singkat. Isra harus menunggu hingga tiga tahun untuk mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan vokasional dalam penyelenggaraan rehabilitasi sosial dan pelatihan vokasional bagi penyandang disabilitas.

Isra pun mengambil jurusan contact center, sembari menyiapkan diri untuk masuk ke dunia kerja.

Titik balik itu datang ketika Isra menerima bantuan alat bantu dengar dari STIS Kemensos. Untuk pertama kalinya ia mulai mengenal suara, sesuatu yang sebelumnya hanya ia pahami melalui gerakan dan ekspresi.

"Dari yang biasanya cuma bisa melihat gerakan, sekarang sudah lebih lancar komunikasi," kata Isra.

Perubahan itu membawa dampak besar. Isra semakin percaya diri, lebih aktif dalam pelatihan, dan mampu mengikuti setiap proses dengan lebih optimal.

Hingga akhirnya, pada 13 Maret 2026 lalu, kabar yang ia tunggu pun datang. Isra dinyatakan lulus sebagai kandidat cleaning service di Mandiri Contact Center.

Bagi Isra, itu bukan sekadar kelulusan. Itu adalah jawaban dari penantian panjang, dari tiga tahun menunggu kesempatan, dari tekad yang ia pegang sejak mulai meninggalkan rumah.

Ia dijadwalkan mulai bekerja pada 1 April 2026 mendatang. Sebuah langkah baru yang menandai awal kemandiriannya.

Namun sebelum itu, Isra memilih untuk tetap tinggal di STIS saat Idulfitri. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ia ingin benar-benar pulang dengan membawa hasil, bukan sekadar cerita.

Malam Idulfitri menjadi momen yang tak terlupakan. Di tengah gema takbir yang mengisi langit, Isra merasakan pengalaman yang selama ini hanya ia bayangkan.

"Dulu duniaku sangat sunyi. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku bisa mendengar suara takbiran," pungkasnya.

(akn/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |