Denpasar -
Selain menjadi destinasi wisata unggulan Indonesia, Bali juga etalase bangsa di mata dunia. Karena itu, keamanan dan ketertiban di Pulau Dewata menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, termasuk soal pengawasan warga negara asing (WNA) yang telah dilakukan Polda Bali.
Kapolda Bali Irjen Daniel Adityajaya menegaskan pentingnya sinergi antara Polri, TNI, pecalang, dan masyarakat dalam menjaga stabilitas keamanan di tengah meningkatnya mobilitas wisatawan domestik maupun mancanegara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, setiap perkembangan situasi keamanan di Bali akan menjadi perhatian internasional karena Bali merupakan wajah Indonesia yang paling dikenal dunia. Selain sebagai destinasi wisata global, Bali juga menjadi salah satu penyumbang devisa dan investasi terbesar nasional.
"Setiap perkembangan situasi keamanan di Bali akan selalu menjadi perhatian dunia. Bali bukan hanya rumah bagi masyarakat Bali, tetapi juga etalase Indonesia di mata internasional," ujarnya, seperti dilansir detikBali, Selasa (23/6/2026).
Karena itu, Polda Bali terus melakukan berbagai langkah strategis untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Salah satunya dengan memperkuat pengawasan terhadap warga negara asing (WNA) yang berada di Pulau Dewata.
Sepanjang 2025, Polda Bali mencatat sebanyak 225 WNA terlibat sebagai pelaku tindak pidana, sedangkan 339 WNA lainnya menjadi korban kejahatan. Data tersebut menjadi salah satu dasar penguatan sistem pengawasan terhadap aktivitas orang asing guna mencegah potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Pada 2026, Polda Bali juga menggelar Operasi Sikat Agung yang berhasil menurunkan angka kriminalitas sebesar 23 persen selama periode Januari hingga April. Pengamanan diperkuat melalui patroli rutin di sejumlah kawasan wisata utama seperti Seminyak, Canggu, Ubud, Sanur, dan Nusa Dua yang menjadi pusat aktivitas wisatawan mancanegara.
Selain itu, masyarakat dan wisatawan dapat memanfaatkan layanan darurat 110 yang beroperasi selama 24 jam dengan dukungan layanan multibahasa untuk melaporkan gangguan keamanan maupun tindak kriminal.
Sebagai bagian dari transformasi pengawasan berbasis teknologi, Polda Bali meluncurkan Command Center Cakra Pengawasan Orang Asing (Cakrawasi) pada 13 Maret 2026. Sistem tersebut memungkinkan pemantauan aktivitas WNA secara terintegrasi dan real time melalui data dari hotel, penginapan, serta berbagai pemangku kepentingan terkait.
Adityajaya menegaskan keberhasilan menjaga keamanan Bali tidak hanya bergantung pada aparat penegak hukum. Peran masyarakat, khususnya pecalang sebagai garda keamanan berbasis kearifan lokal, menjadi salah satu kekuatan utama dalam menjaga stabilitas daerah.
Dalam Apel Bersama Pecalang Bali menjelang Hari Bhayangkara ke-80, para pecalang mengikrarkan komitmen untuk bersinergi menjaga kedamaian di setiap jengkal tanah Bali serta mendukung terwujudnya pariwisata yang berkualitas, beretika, dan berkelanjutan.
Kapolda menyebut pecalang merupakan warisan kearifan lokal yang memiliki legitimasi adat kuat karena tumbuh dan mengakar langsung di tengah masyarakat. Dengan jumlah sekitar 25 ribu personel yang tersebar di seluruh Bali, Pecalang menjadi bagian penting dari sistem deteksi dini dan penyelesaian persoalan sosial secara persuasif dan kultural.
Baca selengkapnya di sini
(idh/dhn)

















































