Intip Dampak Geliat Budidaya Sidat di Nusakambangan bagi Ekonomi Warga Cilacap

6 hours ago 4

Jakarta -

Budidaya sidat menjadi salah satu kegiatan pembinaan terhadap narapidana di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng). Kegiatan ketahanan pangan di sektor perikanan ini ternyata membawa dampak luas hingga ke masyarakat di sekitar 'pulau penjara', yang sedang bertransformasi jadi 'pulau kemandirian'.

Stigma menyeramkan Pulau Nusakambangan selama ini memang mulai terkikis setelah Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto dilantik oleh Presiden Prabowo pada Oktober 2024 silam. Menteri Agus mencanangkan lahan-lahan idle atau lahan tidur di pulau ini menjadi lahan produktif, yang memiliki irisan antara tugas pemasyarakatan dengan misi Asta Cita Pemerintah, yakni ketahanan pangan serta kemajuan usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Kegiatan budidaya sidat meliputi pembuatan kolam, pembuatan pakan sidat serta perawatan bibit sidat hingga siap panen. 'Kehidupan' di area kolam sidat pun kini menghidupi pemilik warung, penjahit jaring kolam tambak (waring) hingga komunitas nelayan di pesisir Jawa, Sumatera hingga Sulawesi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sangat membantu masyarakat pelaku usaha Bahari khususnya, seperti saya ini jadi bisa kerja. Jadi bisa untuk mencukupi keluarga saya, intinya. Jadi ya semoga program ini terus berlanjut biar masyarakat ini bisa ikut menikmati atau ikut bekerja untuk bisa menafkahi keluarga, karena saya bisanya jahit" kata penjahit waring kolam budidaya sidat, Komarudin, Senin (1/6/2026).

Warga Cilacap lainnya, Jasman, yang pekerjaannya menjahit waring pun mengucapkan hal yang sama. Jasman mengaku sehari-hari, sebelum kolam budidaya sidat ada di Nusakambangan, ia kerap tak bekerja.

"Ya saya menjahit waring ini buat menafkahi keluarga lah. Di rumah yang sehari-harinya nggak ada kerjaan jadi ada kerjaan buat nafkahin anak," ucap Jasman.

Dampak budidaya sidat di Pulau Nusakambangan bagi masyarakat sekitar.Foto: Jasman, seorang penjahit waring raup untung dari adanya budidaya sidat di Pulau Nusakambangan. (Tangkapan layar video)

Yovieta Surabila juga mengecap manisnya budidaya sidat di Nusakambangan. Di tengah persaingan dalam mencari pekerjaan, ia diberi kesempatan bekerja menjadi Kepala Administrasi Teknis Budidaya Sidat Pulau Nusakambangan.

"Saya di sini sebagai admin budidaya sidat. Di sini saya bertanggungjawab pada manajemen kualitas air seperti menjaga kualitas air agar selalu terkontrol dengan menjadwalkan pengecekan air secara rutin setiap harinya. Selain itu tugas saya berfokus pada pemberian pakan atau food ratio dalam pemberian pakan setiap harinya pada pagi, sore dan malam hari," jelas perempuan asal Cilacap ini.

"Selain itu tugas saya sebagai administrasi terkait data benih sidat masuk dari awal, pembesaran bibit," sambung dia.

Kepala Nelayan Glass Eel, Ade Rohman, mengatakan permintaan bibit sidat oleh pihak kolam budidaya Pulau Nusakambangan memotivasi nelayan setempat untuk melaut. Pun Kepala Nelayan Sidat Alam, Daryanto, mengaku sebelumnya pembelian bibit sidat tak menentu, namun kini bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari para nelayan.

"Program (budidaya sidat) ini sangat membantu untuk nelayan-nelayan kami di lapangan untuk nelayan-nelayan kami di lapangan untuk hasil tangkapan ini," kata Ade.

"Kami para nelayan kampung laut merasa tertolong dengan adanya program tersebut, yang judulnya sidat tangkapan. Sebelumnya jarang sekali laku, kadang laku, kadang tidak. Sekarang (kondisinya) berbeda, ada pembelinya, sehingga bisa untuk mencukupi kebutuhan para nelayan," tutur Daryanto pada kesempatan berbeda.

Dampak budidaya sidat di Pulau Nusakambangan bagi masyarakat sekitar.Foto: Turini, pemilik warung, merasa senang karena kegiatan budidaya sidat membuat warungnya yang berada di sekitar Pulau Nusakambangan ramai pembeli. (Tangkapan layar video)

Penghasilan warung milik Turini juga terdampak kegiatan budidaya sidat ini. Kini dagangan di warungnya ramai dibeli tamu yang berkunjung untuk melihat budidaya sidat, serta karyawan kolam.

"Alhamdulillah dengan adanya program Pak Menteri dan rombongan, semuanya di sini membuat para masyarakat di sini khususnya di daerah kami, ada pekerjaan yang bisa dikerjakan setiap hari, dan ada pendapatan, pemasukan untuk keluarga," ungkap Turini.

"Berkat program yang Bapak adakan, warung kecil kami alhamdulillah sekarang semakin banyak pengunjung karena banyak tamu-tamu berkunjung ke sini, dan karyawan-karyawannya semakin banyak, mereka jajannya di sini," pungkas perempuan yang mengenakan blus merah tua dan hijab abu-abu ini saat ditemui.

Sebagai salah satu program unggulan pembinaan ketahanan pangan di Nusakambangan, budidaya sidat menjadi sarana pembelajaran dan reintegrasi sosial bagi warga binaan. Saat ini, operasional tambak sidat melibatkan 50 napi yang berasal dari Lapas Terbuka Nusakambangan dan Lapas Nirbaya yang berstatus minimum security.

Keterlibatan napi dari kedua lapas tersebut dilakukan karena Lapas Kelas I Batu merupakan lapas berkategori super maximum security. Sehingga petugas bidang kegiatan kerja (giatja) Lapas Batu lebih berperan dalam fungsi pengawasan dan pengawalan terhadap para WBP yang bertugas di area tambak.

Selain melibatkan napi, kegiatan budidaya sidat juga menyerap tenaga kerja dari masyarakat umum. Sebanyak 20 tenaga kerja non-napi saat ini bekerja di tambak, terdiri atas empat tenaga administrasi dan 16 pekerja lapangan yang menangani berbagai aktivitas operasional budidaya.

Tidak hanya itu, tiga orang mantan napi juga turut dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa program pembinaan yang dijalankan tidak berhenti ketika masa pidana berakhir, melainkan berlanjut dalam bentuk kesempatan kerja yang membantu proses reintegrasi ke tengah masyarakat.

Ke depan, hasil budidaya sidat Nusakambangan diarahkan untuk menembus pasar yang lebih luas. Selain memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri melalui jaringan restoran Jepang, produk sidat dari Nusakambangan juga dipersiapkan untuk memasuki pasar ekspor, khususnya Jepang yang dikenal memiliki permintaan tinggi terhadap komoditas tersebut.

"Dengan demikian, budidaya sidat di Nusakambangan tidak hanya menjadi instrumen pembinaan warga binaan, tetapi juga berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi baru yang memberikan manfaat berlapis bagi masyarakat Cilacap dan kawasan sekitarnya," tutup Menteri Agus.

Dampak budidaya sidat di Pulau Nusakambangan bagi masyarakat sekitar.Foto: Penampakan kolam budidaya sidat di Pulau Nusakambangan pada malam hari. (Tangkapan layar video)

(aud/jbr)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |