Jakarta -
Sekretaris Komisi V DPRD Banten, Rifky Hermiansyah, menanggapi kondisi campak di Provinsi Banten yang mengarah ke Kejadian Luar Biasa atau KLB. Dinas Kesehatan (Dinkes) diminta menjamin ketersediaan obat dan vaksin.
Rifky menyebut Komisi V DPRD akan memanggil Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk menggelar rapat dengar pendapat (RDP). DPRD akan mengecek kesiapan Dinas Kesehatan.
"Kami di DPRD sangat memperhatikan lonjakan angka suspek yang mencapai 2.000 kasus dalam tiga bulan pertama 2026 ini. Kami akan segera memanggil Dinkes Banten untuk memaparkan sejauh mana kesiapan mereka di lapangan," ujar Rifky kepada wartawan, Senin (16/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut politikus Gerindra ini, stok obat-obatan atau vaksin jangan sampai kosong di puskesmas maupun posko kesehatan. Ketersediaan obat untuk memastikan penanganan kepada warga yang terdampak bisa dilakukan cepat.
"Kami ingin memastikan ketersediaan obat-obatan campak dan vaksin MR mencukupi untuk seluruh wilayah Banten, terutama di daerah zona merah seperti Pandeglang dan Tangerang. Jangan sampai ada kendala stok di tengah ancaman KLB ini," katanya.
"Kami tidak ingin Banten kecolongan hanya karena masalah distribusi obat yang terhambat atau koordinasi yang lemah," kata Rifky.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Banten melakukan surveilans atau pemantauan kasus campak di wilayahnya yang mengarah pada Kejadian Luar Biasa (KLB). Sampai saat ini telah ditemukan lebih dari 2.000 suspek campak.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Banten Ati Pramudji Astuti mengatakan, pada 2025, terdapat sekitar 6.000 suspek campak. Dari angka tersebut, sekitar 510 kasus dinyatakan positif campak.
"Berbekal dari situ, otomatis kita menganggap ini mengarah ke KLB (Kejadian Luar Biasa). Maka kita harus antisipasi di tahun 2026. Sejak Januari kemarin kita sudah mempersiapkan, dan dari data yang masuk sampai dengan Maret, dengan surveilans aktif kembali yang terus kita lakukan sampai di level puskesmas, diperkirakan sudah ada 2.000 lebih yang suspek," kata Ati di Kota Cilegon, Jumat (13/3).
Ati menyebut 2.000 kasus tersebut tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Banten. Namun dari angka tersebut, satu orang dinyatakan positif berdasarkan pemeriksaan di Kota Tangerang.
"Kenapa kita galakkan (surveilans), Maret dapat 2.000, kita tak boleh kecolongan. Meski campak tanpa komplikasi potensi kesembuhannya besar. Baru bergejala pun kita arahkan ke kondisi campak," katanya.
(aik/ygs)
















































