Apa Itu Polusi Partikulat? Kenali Sumber dan Dampak Bahayanya

1 month ago 28

Jakarta -

Polusi udara menjadi salah satu persoalan lingkungan yang masih dihadapi berbagai daerah di Indonesia. Di antara berbagai jenis polutan di udara, partikulat atau particulate matter (PM) termasuk yang perlu diwaspadai karena ukurannya sangat kecil dan dapat terhirup ke dalam saluran pernapasan.

Lantas, apa itu polusi partikulat, dari mana asalnya, dan mengapa paparan partikel ini dapat berdampak bagi kesehatan? Berikut penjelasannya berdasarkan materi edukasi yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Apa Itu Polusi Partikulat?

Merujuk penjelasan BMKG, partikulat (particulate matter atau PM) adalah debu, asap, dan kotoran berukuran sangat kecil yang melayang di udara. Karena ukurannya jauh lebih kecil daripada sehelai rambut manusia, partikulat sering kali tidak terlihat oleh mata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BMKG menjelaskan bahwa partikulat terdiri dari berbagai ukuran. Rambut manusia memiliki diameter sekitar 50 hingga 70 mikrometer. Sementara itu, PM10 berukuran kurang dari 10 mikrometer dan PM2.5 memiliki ukuran kurang dari 2,5 mikrometer sehingga jauh lebih kecil dibandingkan diameter rambut manusia.

Jenis Partikulat di Udara

Menurut BMKG, terdapat dua jenis partikulat yang umum menjadi perhatian, yaitu PM10 dan PM2.5.

  • PM10 dikenal sebagai partikel kasar. Partikel ini dapat terhirup dan menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan bagian atas, seperti hidung dan tenggorokan. Sumbernya antara lain berasal dari debu jalanan, serbuk sari, serta partikel berukuran lebih besar lainnya.
  • Sementara itu, PM2.5 merupakan partikel yang jauh lebih halus. BMKG menyebut PM2.5 sebagai jenis partikulat yang paling berbahaya karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat menembus paru-paru, bahkan masuk ke aliran darah.

Dari Mana Asal Polusi Partikulat?

BMKG menjelaskan bahwa partikulat dapat berasal dari berbagai aktivitas di sekitar manusia. Beberapa sumber utama polusi partikulat meliputi:

  • Asap kendaraan bermotor yang menghasilkan partikel halus berbahaya, termasuk PM2.5 dan PM10.
  • Asap industri dan pembangkit listrik akibat proses pembakaran bahan bakar fosil.
  • Debu dari proyek konstruksi yang menghasilkan partikel halus di udara.
  • Asap kebakaran hutan maupun pembakaran sampah yang melepaskan partikulat dalam jumlah besar.

Semakin tinggi konsentrasi partikulat di udara, semakin besar pula potensi masyarakat terpapar polusi udara, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.

Siklus Harian Polusi Partikulat

BMKG menjelaskan bahwa konsentrasi PM2.5 tidak selalu sama setiap waktu. Perubahannya dipengaruhi oleh aktivitas manusia dan kondisi atmosfer sepanjang hari.

Pada malam hingga pagi hari, konsentrasi PM2.5 cenderung lebih tinggi karena lapisan udara lebih stabil sehingga polutan yang terbawa angin turun dan berkumpul di dekat permukaan. Memasuki siang hari, aktivitas masyarakat meningkat sehingga konsentrasi PM2.5 tetap tinggi.

Sementara itu, pada sore hari kondisi atmosfer yang semakin hangat membantu polutan terangkat ke lapisan udara yang lebih tinggi. Hal tersebut membuat konsentrasi PM2.5 di permukaan cenderung menurun dibandingkan pada pagi atau siang hari.

(wia/zap)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |