Warga Korban Banjir Tapsel Jalani Sahur Pertama Ramadan di Pengungsian

4 hours ago 4
Tapanuli Selatan -

Sejumlah warga korban banjir bandang di Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, menyantap sahur pertama pada bulan Ramadan 1447 H di tenda darurat. Para pengungsi menyantap menu yang dimasak di dapur umum.

Dilansir Antara, Kamis (19/2/2026), sejumlah penyintas bencana banjir bandang tampak mendatangi dapur umum di Posko Bencana yang berada di Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan. Mereka membawa tempat makan untuk mengambil nasi dan lauk yang disediakan dapur umum.

Selain memanfaatkan dapur umum, penyintas bencana banjir bandang yang berasal dari Desa Huta Godang dan Garoga juga ada memasak di tenda masing-masing. Seorang penyintas bencana banjir bandang, Marlan Hutauruk, mengatakan sahur kali ini sangat berbeda dengan sahur sebelum bencana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengatakan bencana banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 telah menghancurkan rumahnya. Dia mengaku terpaksa menjalani ibadah di bulan Ramadan di tempat pengungsian.

"Kalau dahulu lebih nyaman tentunya sebab kami berada di rumah sendiri, sekarang kondisi kami seperti ini," katanya saat santap sahur bersama istri dan warga lainnya yang berada di pos pengungsian.

Penyintas banjir lainnya, Khoiruddin Simatupang, mengaku rindu dengan suasana Ramadan dan santap sahur di rumah. Dia mengatakan sudah hampir 3 bulan dirinya berada di pengungsian.

"Ini hari pertama kami Ramadan di pengungsian. Kami di sini sudah hampir tiga bulan setelah bencana," katanya.

Posko dapur umum yang berada di lokasi pengungsian Desa Batu Hula menyediakan santap sahur bagi 220 kepala keluarga yang berada di lokasi tersebut. Penjaga posko dapur umum, Resdi Nasution, mengatakan dapur umum mulai memasak pukul 03.00 WIB.

Pada santap sahur hari pertama, dapur umum hanya menyediakan nasi dan mi instan. Menurut dia, penyintas banjir bandang rata-rata sudah memiliki lauk untuk santap sahur berupa daging sapi sumbangan yang sudah dimasak sehari sebelumnya.

"Sekarang kami menyediakan nasi, sama mi instan, karena yang ada hanya itu," katanya.

Resdi menyebut dapur umum kali ini sudah tidak sesibuk awal bencana banjir bandang. Dia mengatakan para penyintas rata-rata sudah memiliki penanak nasi sendiri di masing-masing lokasi pengungsian.

"Kami tetap menyediakan nasi dan lauknya, karena ada juga yang masih bergantung di dapur umum," ujarnya.

Dia mengatakan dapur umum tersebut ditugaskan untuk menyediakan makanan bagi 220 KK yang mengungsi di tiga titik, baik yang berada di tenda biru, putih, maupun di bengkel milik warga.

(haf/dhn)


Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |