Jakarta -
Fenomena gerhana bulan total di Jakarta tak terlihat akibat hujan gerimis dan awan tebal yang menyelimuti kawasan Planetarium, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Warga yang telah berdatangan sejak sore terpaksa hanya menyaksikan detik-detik gerhana melalui live streaming dari daerah lain.
Pantauan detikcom di lokasi, awan mendung menyelimuti kawasan Planetarium setelah waktu magrib. Meski cuaca sempat cerah di siang hari, kondisi berubah drastis memasuki waktu pengamatan.
"Kendalanya jelas karena cuaca. Ini memang jadi concern kami sejak awal. Kami sudah monitor sejak seminggu lalu," ujar Edukator Astronomi Planetarium dan Observatorium Jakarta Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta (UP PKJ) TIM Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Muhammad Rayhan, di Gedung Teater Jakarta, Selasa (3/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kondisi ini dipicu adanya pertumbuhan siklon di wilayah selatan Pulau Jawa. Hal ini sesuai dengan prediksi meteorologi yang menyebut Jakarta akan diguyur hujan sepanjang hari.
"Tadi siang sampai sore sempat menggembirakan, memberikan harapan palsu. Tapi ternyata terbukti sesuai prediksi, Jakarta mendung, bahkan gerimis," lanjutnya.
Meski gagal mengamati secara langsung lewat teleskop, pihak Planetarium dan Himpunan Astronom Amatir Jakarta (HAAJ) sudah menyiapkan rencana cadangan. Masyarakat yang hadir diarahkan untuk menyaksikan live streaming penampakan gerhana dari daerah lain yang cuacanya cerah.
"Masyarakat kita tampilkan live streaming tampilan gerhana bulan total yang terjadi di Manado melalui BMKG dan juga dari Bandung melalui Observatorium Bosscha," jelasnya.
Dengan adanya tayangan tersebut, warga diharapkan tetap bisa mendapatkan edukasi dan gambaran jelas mengenai proses terjadinya gerhana bulan total.
Sempat Lihat Planet Jupiter
Walaupun gerhana bulan tertutup awan, warga yang datang lebih awal sempat mendapatkan 'hiburan' lain. Planet Jupiter sempat menampakkan diri di awal malam sebelum hujan turun.
"Alhamdulillah tadi sempat berhasil mengamati planet Jupiter di awal malam. Meskipun untuk bulannya sendiri sampai detik ini masih mendung dan gerimis," katanya.
Pihak penyelenggara akhirnya memutuskan menyudahi kegiatan pada pukul 20.41 WIB. Selain karena faktor cuaca, fase gerhana saat itu sudah memasuki fase penumbra, yang secara visual sulit dibedakan dengan bulan purnama biasa.
Bagi warga yang melewatkan momen ini, gerhana bulan total baru akan kembali terjadi secara global pada malam pergantian tahun baru, yakni 31 Desember 2028 hingga 1 Januari 2029.
Simak juga Video '5 Mitos Gerhana Matahari yang Dibantah Sains':
(azh/azh)

















































