Waka MPR Soroti Pentingnya Penerapan Ajaran Tri Pusat Pendidikan

7 hours ago 2

Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Rerie) menyoroti pentingnya penerapan ajaran Tri Pusat Pendidikan dari Ki Hajar Dewantara. Langkah itu penting untuk memperkuat sistem pendidikan nasional.

Rerie menekankan pembahasan mengenai Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) yang sedang berjalan harus dikembalikan pada pemikiran-pemikiran besar kebangsaan, terutama yang digagas oleh Bapak Pendidikan Indonesia.

Pernyataan ini disampaikan dalam Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara MPR RI bertema Menghidupkan Kembali Tri Pusat Pendidikan, bersama Institut Sarinah di ruang Delegasi, Gedung Nusantara IV, Kompleks DPR/MPR/DPD RI Senayan, Jakarta, Kamis (25/6).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam sambutannya, Rerie menyoroti bahwa diskusi mengenai pendidikan seringkali terjebak pada aspek nomenklatur dan administrasi, sehingga kehilangan esensi filosofisnya. Rerie menekankan pentingnya membawa isu pendidikan ke dalam tataran yang lebih dalam, yaitu jiwa dari pendidikan itu sendiri.

Hal ini selaras dengan konsep Tri Pusat Pendidikan yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara yang menekankan sinergi tiga lingkungan utama dalam mendidik anak yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Menurut Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu, pemikiran Ki Hajar Dewantara menjadi semakin relevan di tengah dinamika pendidikan saat ini.

Ajaran Tri Pusat Pendidikan mengingatkan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak hanya berada di pundak guru dan sekolah, melainkan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Rerie menyoroti model pendidikan tidak bisa hanya berfokus pada metode mengajar, tetapi juga bagaimana menciptakan ekosistem yang mendukung. Ia mengkritisi sejumlah praktik yang telah berlangsung dalam sistem pendidikan, salah satunya adalah pemaknaan yang keliru mengenai keterlibatan orang tua.

Ia juga mengingatkan bahwa keterlibatan orang tua bukan sekadar kehadiran fisik dalam setiap kegiatan sekolah, melainkan pemahaman mendalam tentang substansi pendidikan anak.

"Pemahaman mendalam ini merupakan salah satu aspek penting dalam lingkungan keluarga sebagai pusat pendidikan pertama dan utama," ujar Rerie dalam keterangan tertulis, Kamis (25/6/2026).

Selain itu, Rerie juga menyoroti belum adanya pemikiran yang mendalam mengenai kebudayaan dalam proses pembahasan sistem pendidikan. Menurutnya, kebudayaan sebagai hasil karya pikiran dari proses belajar mengajar harus menjadi bagian integral dari sistem pendidikan.

Hal ini sejalan dengan konsep Ki Hajar Dewantara yang menempatkan kebudayaan sebagai salah satu asas penting dalam pendidikan melalui Pancadharma.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mengingatkan bahwa pelaksanaan sistem pendidikan nasional yang baik menjadi kunci dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Dalam konteks revisi UU Sisdiknas yang saat ini berlangsung, Rerie menekankan pentingnya masukan-masukan kritis yang menyentuh aspek filosofis, bukan sekadar teknis administratif.

Direktur Institut Sarinah Eva Kusuma Sundari menilai saat ini tidak ada yang mengurus aspek parenting dalam proses pendidikan. Ia juga menegaskan pentingnya menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam upaya membangun karakter anak bangsa.

Menurut Eva, internalisasi nilai-nilai Pancasila harus mampu diterapkan dalam keluarga. Pendidikan di keluarga untuk menanamkan norma dan nilai yang berlaku sangat penting dalam membentengi anak dari ancaman tindak kekerasan di masyarakat.

Aktivis Pendidikan Indra Charismiadji berpendapat bahwa mengelola pendidikan nasional praktiknya harus belajar dari operasional ojek online yang di awal operasi harus jelas titik jemput dan titik antarnya, serta jelas besaran biaya yang dibutuhkan.

Menurut Indra, dengan capaian PISA relatif rendah dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2045 yang menarget pendapatan per kapita US$30.000 per tahun, hal itu tidak mungkin dicapai bila sektor pendidikan tidak segera dibenahi.

Mengutip Ki Hajar Dewantara, Indra menegaskan bahwa pendidikan itu adalah tuntunan hidup pada sebuah ekosistem yang berpusat pada tiga alam, yaitu keluarga, komunitas, dan perguruan/sekolah.

"Sayangnya, selama ini pendidikan kita hanya berpusat pada sekolah semata," ujar Indra.

Direktur Eksekutif Yayasan Sukma Ahmad Baedowi berpendapat bahwa sekolah yang baik harus memiliki dan melakukan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS) dengan baik.

"Kalau rencana APBS-nya salah, proses pendidikannya gagal dan itu yang kerap terjadi di sekolah-sekolah saat ini," ujar Baedowi.

Simak juga Video: Makna Pendidikan ala Ki Hajar Dewantara

(anl/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |