Jakarta -
Menteri Imipas Agus Andrianto bicara mengenai tantangan program ketahanan pangan di lapas. Agus mengatakan orang yang 'untung' dalam program ketahanan pangan di lapas adalah warga binaan.
"Siapa yang diuntungkan (dalam program Ketahanan Pangan di pemasyarakatan) dan sebagainya? Kalau ditanya, investornya belum ada untung, yang untung adalah warga binaan permasyarakatan yang tentu sudah mendapatkan pengalaman dari program latihan yang dilaksanakan kemudian yang bekerja untuk mempersiapkan kegiatan perikanan, misalnya buat kolam dan lain sebagainya tentu yang bekerja di sana juga memperoleh kentungan," ujar Agus saat sambutan dalam FGD Ketahanan Pangan di Kemenimipas yang disiarkan di YouTube, Selasa (23/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus mengatakan setiap program dan kebijakan instansi tertentu pasti ada sisi negatifnya. Meski begitu, setiap hal negatif itu adalah risiko yang harus diambil seorang pemimpin jika ingin programnya berhasil.
"Artinya kalau kita melihat dari hal sisi negatif, selalu ada. Itu adalah bentuk keadilan yang maha kuasa bahwa ada yang setuju, ada yang tidak setuju, ada yang positif, ada yang negatif. Ini risiko yang harus diambil oleh siapapun yang menjadi pimpinan," katanya.
"Oleh karena itu, kami dalam menyelenggarakan kegiatan pembinaan warga binaan permasyarakatan tentunya mendasari atas temuan-temuan dari hasil pekerjaan yang lalu, yang kami ambil, kemudian dan itu kita laksanakan yang tentunya kita selaraskan dengan program kebijakan pemerintah," sambungnya.
Dia pun menegaskan dirinya siap mengambil risiko. Asalkan warga binaan terus mendapat pelatihan agar bisa berkontribusi dalam mewujudkan kedaulatan pangan dan energi.
"Sekali lagi, sebagai menteri di lingkungan Imigrasi dan Permasyarakatan, saya bertanggung jawab dan mengambil risiko, apabila ini tidak benar, maka itu harus saya lakukan, karena apa pun yang saya kerjakan semata-mata adalah untuk memberikan pelatihan kepada warga binaan permasyarakatan, sekaligus juga upaya kami, walaupun sedikit turut berkontribusi bagi terwujudnya kebijakan pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan pangan, energi, dan sebagainya," pungkasnya.
Premi untuk Napi
Sebelumnya, Selasa (10/2/2026), detikcom mewancara seorang napi bernama Hamas (31) di Pulau Nusakambangan. Ia memutuskan untuk menghabiskan 7 bulan sisa masa pembinaan di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng), dengan belajar budi daya ikan sidat.
Dia bersama sejumlah warga binaan pemasyarakatan atau narapidana (napi) lainnya tampak merapikan kotak gabus bekas wadah bibit-bibit ikan sidat usai kunjungan Komisi XIII DPR RI dan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto di area kolam ikan sidat Pulau Nusakambangan.
Ia pun mengaku sedang mempertimbangkan jika nanti masa pembinaan usai, lanjut melamar sebagai pekerja di kolam ikan sidat ini, atau kembali ke kampung halaman di Garut, Jawa Barat. Ia mengaku banyak ilmu tentang budi daya ikan, khususnya sidat, yang dia dapat dari kegiatan sehari-harinya saat ini.
"Masih bingung. Kalau tetap di sini, tapi kangen keluarga. Saya dari Garut," ucap Hamas.
Dia mengaku kini memiliki keterampilan instalasi kolam budidaya ikan seperti memasang jaring membran hingga paralon untuk saluran air. Ia juga mensyukuri premi yang dikantonginya perbulan dari kegiatan budi daya ikan sidat di Nusakambangan.
"Ilmu di sini yang saya dapat adalah bisa instalasi kolam-kolam. Saya tau bagaimana cara pasang jaring membran, lalu bagaimana pemipaan atau pemasangan paralon untuk kolam," jelas Hamas.
"(Premi) Rp 450 ribu, bulanan. Lalu dikasih makan siang, kopi dan ada rokok juga. Jadi lumayan," tuturnya.
Hamas menerangkan, jika akhirnya mantap pulang kampung, ia hendak memulai budi daya ikan skala kecil. "Ilmu yang (didapat) di sini, pasti berguna. Kepikiran mulai (budidaya ikan) kecil-kecilan (jika pulang kampung)," ujar Hamas.
(aud/aud)

















































