Jakarta -
Kapoksi Komisi VIII DPR RI Fraksi PDIP, Selly Andriany Gantina, menyoroti peristiwa bocah 12 tahun yang tewas bunuh diri di Demak, Jawa Tengah. Selly menilai insiden tersebut merupakan bukti kurangnya jaminan kesehatan mental bagi anak.
"Peristiwa ini bukan sekadar tragedi keluarga, melainkan alarm moral dan sosial bagi negara, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan dalam sistem perlindungan anak nasional," kata Selly, dalam keterangannya, Rabu (18/2/2026).
Selly menilai bunuh diri pada anak usia di bawah 12 tahun merupakan kasus yang sangat kompleks. Menurutnya, pada usia tersebut anak belum memiliki pemahaman matang terkait kematian dan sangat dipengaruhi impuls emosional serta lingkungan sosial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tragedi ini menuntut kita untuk melihat persoalan secara jujur dan struktural. Anak yang seharusnya berada dalam fase tumbuh, belajar, dan merasakan perlindungan penuh, justru berada dalam posisi rentan secara emosional," jelas Selly.
Menurutnya, negara tak boleh hanya hadir setelah tragedi terjadi. Dia meminta ada penguatan sistem perlindungan yang mampu mencegah dan mendeteksi kerentanan anak sejak dini.
Dia menekankan penguatan sistem deteksi dini kesehatan mental anak di sekolah dan keluarga. Selly menegaskan sekolah tak boleh hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, melainkan juga ruang aman emosional.
"Reorientasi kebijakan perlindungan anak menuju pendekatan preventif, bukan reaktif. Selama ini, negara cenderung bertindak setelah tragedi terjadi. Padahal, perlindungan anak yang sejati adalah kemampuan negara untuk mengidentifikasi risiko sebelum menjadi krisis," ujarnya.
"Pengawasan terhadap ekosistem digital yang memengaruhi psikologis anak. Paparan konten digital tanpa pendampingan dapat membentuk persepsi yang keliru tentang kematian, penderitaan, dan solusi atas tekanan emosional," tambahnya.
Selly menegaskan perlindungan anak merupakan mandat konstitusional negara. Dia menilai tragedi ini menunjukkan kerentanan anak tak selalu berkaitan dengan kondisi ekonomi, melainkan juga kesejahteraan psikologis dan sosial.
"Anak bukan sekadar individu dalam statistik demografi, melainkan masa depan bangsa. Negara yang gagal melindungi kesehatan mental anak sesungguhnya sedang mempertaruhkan kualitas peradaban masa depannya," ujarnya.
Sebelumnya, seorang bocah perempuan di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, ditemukan tewas gantung diri di rumahnya. Sebelumnya, korban sempat mengunggah tangkapan layar obrolan pesan yang berisi kalimat dengan nada emosi dari ibunya.
Kasat Reskrim Polres Demak Iptu Anggah Mardwi Pitriyono menyebut tangkapan layar itu diunggah beberapa hari sebelum kejadian. Dalam tangkapan layar itu tertulis beberapa kata kasar.
"Screenshot itu adalah chat dari ibunya ke korban dan diunggah oleh korban di WhatsApp beberapa hari sebelum peristiwa gantung diri," kata Anggah melalui sambungan telepon, dilansir detikJateng, Jumat (13/2).
Korban juga sempat menulis kalimat di foto tersebut, yakni 'Di balik tawa gua, disisi lain aku juga cape'. Anggah menyampaikan peristiwa gantung diri ini terjadi pada Kamis (12/2) sore.
(amw/wnv)

















































