Pakar Bicara Perang AS-Iran 'Mengambang' jika Kesepakatan Damai Terus Buntu

7 hours ago 6
Jakarta -

Amerika Serikat (AS) dan Iran belum menemukan kesepakatan damai mengakhiri perang dan justru diwarnai saling ancam. Bagaimana nasib Timur Tengah bila kesepakatan antara AS dan Iran gagal?

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyebut proposal yang diajukan Iran sebagai 'sampah'. Iran langsung bereaksi dengan mengeluarkan ultimatum kepada AS bahwa "tidak ada alternatif lainnya" selain menerima proposal tersebut.

Guru besar hukum internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, melihat kemungkinan besar AS dan Iran gagal menemukan kesepakatan. Bila betul pada akhirnya gagal, ia memprediksi perang akan berlanjut meski tidak intens.

"Bila gagal maka perang seolah masih berlangsung tapi intensitas tidak seperti sebelumnya karena sudah ada gencatan senjata. Jadi seperti antara Rusia dan Ukraina," ujar Hikmahanto kepada wartawan, Kamis (14/5/2026).

Hikmahanto mengungkap 4 alasan perang tidak bakal berlangsung intens. Pertama, Epic Fury Operations sudah dinyatakan berakhir oleh pemerintah AS.

Kedua, Trump belum memperoleh persetujuan dari Kongres AS untuk menyerang Iran kembali. Ketiga, anggaran untuk perang belum mendapat persetujuan.

"(Alasan keempat) Sementara bagi Iran kalau tidak ada serangan AS ke Iran maka Iran tidak akan menyerang," tutur Hikmahanto.

"Jadi perang akan diambangkan oleh AS dan Iran," sebutnya.

Jika sudah begitu, masalah terbesarnya yakni Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak terbesar di dunia. Masa depan Selat Hormuz akan menjadi tanda tanya.

"Apakah pengambangan perang akan membuat Selat Hormuz tertutup atau bisa dibuka kembali? Ini yang sudah diupayakan oleh dunia tanpa melibatkan AS," jelas Hikmahanto.

"Seperti yang dilakukan oleh Prancis dan Inggris yang akan mengawal kapal-kapal tanker dan akan gunakan senjata kalau diserang," lanjutnya.

Perundingan AS dan Iran Masih Buntu

Sebelumnya, Donald Trump menolak proposal balasan Iran, yang disebutnya sebagai proposal "bodoh" dan "sampah". Trump juga menyebut gencatan senjata AS-Iran yang diberlakukan sejak awal April dalam "kondisi kritis".

Pemerintah Iran, pada Selasa (12/5), menolak gagasan untuk mengubah proposalnya. Perunding utama Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf, justru mengeluarkan ultimatum kepada AS bahwa "tidak ada alternatif lainnya" selain menerima syarat yang diajukan Iran untuk perdamaian Timur Tengah, atau menghadapi "kegagalan".

Iran menegaskan tidak akan memasuki putaran kedua perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS) kecuali lima syarat, yang ditetapkan Teheran untuk membangun kepercayaan dengan Washington, terpenuhi.

Menurut laporan Fars News Agency, lima syarat yang ditetapkan Teheran itu mencakup "mengakhiri perang di semua front, terutama Lebanon", mencabut sanksi-sanksi, melepaskan aset-aset Iran yang dibekukan, memberikan kompensasi atas kerusakan perang, dan mengakui hak kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.

(isa/jbr)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |