Jakarta -
Ombudsman RI mengumumkan hasil rapid assessment akuntabilitas pelayanan publik dalam peristiwa kecelakaan dua kereta di Bekasi Timur. Ombudsman mendorong semua perlintasan sebidang dikelola secara resmi.
"Perlintasan sebidang misalnya, tetapi dengan palang pintu resmi, dijaga secara resmi, dan kemudian berbagai perangkat teknologi informasi yang memang harus diperkuat di situ, gitu ya," kata Anggota Ombudsman RI Robert Na Endi Jaweng dalam jumpa pers di kantor Ombudsman RI, Jakarta Selatan, Rabu (1/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Robert juga menyebut opsi paling ideal sebenarnya adalah menutup semua perlintasan sebidang dan membuat flyover atau underpass di setiap perlintasan sebidang tersebut. Namun, hal tersebut disebutnya tidak realistis.
"Sebenarnya yang kalau kalau opsi yang paling ideal, paling ideal dari semua itu adalah perlintasan tidak sebidang, artinya memang dia kemudian dibangun flyover ataukah underpass, tetapi kan sangat makan ongkos, makan ongkos dan tidak mungkin juga setiap perlintasan itu akan dibangun seperti itu. Itu memang apa namanya, sesuatu yang hampir, apa, mustahil secara secara teknis ya. Maka opsinya diturunkan jadi perlintasan sebidang tetapi resmi semua," katanya.
Robert menilai adanya perlintasan sebidang menjadi penyebab kecelakaan kereta di Bekasi Timur. Dia menyebut insiden ini terjadi secara sistemik.
"Di prakejadian ini yang menjadi sesuatu yang sangat krusial adalah terkait dengan perlintasan sebidang. Kejadian kemarin kan bermula dari problem di perlintasan sebidang. Perlintasan sebidang ini, Bapak-Ibu, adalah titik interaksi yang paling kritis dalam perjalanan kereta api. Tidak ada kecelakaan kereta api yang disebabkan oleh kelalaian tunggal, bukan insiden biasa, bukan sesuatu yang semata human error. Ini adalah sesuatu yang sistemik kalau kita merunutnya dari soal perlintasan sebidang ini," katanya.
Lebih lanjut, Robert mendorong agar pemerintah mempunyai standar layanan keselamatan. Dia menilai respons secara spontan masih diandalkan.
"Ke depan kita tentu berharap ini tidak akan terjadi lagi, tapi kalau terjadi, pemerintah wajib punya standar layanan keselamatannya. Itu yang kami lihat belum punya. Yang dilakukan kemarin lebih kepada respons spontan yang kebetulan berjalan terkoordinasi dan bagus. Tapi kan tidak bisa ke depan mengandalkan sistem kerja yang seperti ini. Harus ada standar pelayanan yang terintegrasi dan sistematis, sehingga ketika terjadi hal seperti ini kita sudah punya rujukan, termasuk pembelajaran atas apa yang sudah dilakukan kemarin," ujarnya.
Meski begitu, Robert menilai respons pemerintah pascakejadian kecelakaan kereta di Bekasi Timur sudah berjalan optimal. Dia mengapresiasi adanya pemulihan hak-hak korban yang langsung berjalan.
"Kami menilai bahwa ketika kejadian dan pascakejadiannya, respons pemerintah dan kapasitas pemerintah dalam apa menanggapi, termasuk tanggap darurat atas yang apa yang yang terjadi, itu berjalan cukup optimal, baik pemerintah sebagai pemangku otoritas, maupun juga operator sarana seperti PT KAI dan berbagai pihak yang lain, termasuk ketika pemulihan hak-hak korban. Di sana kita melihat seperti Jasa Raharja, lalu kemudian BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, rumah sakit, dan sebagainya itu sudah menunjukkan kapasitas kerja yang cukup optimal dan kami memberikan apresiasi atas itu," katanya.
Robert berharap para pemangku kebijakan dapat membangun sarana yang bisa mengurangi risiko kecelakaan. Presiden Prabowo Subianto menurutnya sudah memberikan arahan agar tidak terjadi lagi kecelakaan seperti yang terjadi di Bekasi.
"Mudah-mudahan dengan arahan Bapak Presiden yang nanti akan apa merencanakan pembangunan sarananya dan mengalokasikan dana, ini menjadi start yang penting ya untuk kemudian kita sangat serius menggarap ini agar sesuatu yang sudah bisa diperkirakan risiko keselamatannya, itu benar memang bisa kita mitigasi dan bisa dicari solusinya," katanya.
Sebagaimana diketahui, KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4) malam. Peristiwa itu menyebabkan 16 orang meninggal dunia dan 90 orang lainnya terluka.
Saat kecelakaan, taksi Green SM sempat terhenti di tengah rel kereta api yang tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur karena masalah korsleting, kemudian tertemper KRL yang melaju dari Cikarang ke arah Jakarta. KRL yang terlibat kecelakaan dengan taksi itu kemudian terhenti di tengah rel.
(azh/azh)














































