Negara Ini Pernah Kalah Saat Berperang Lawan Burung

2 hours ago 2
Jakarta -

Australia pernah kalah dalam peperangan. Namun, perang bukan dengan negara lain, tetapi perang melawan burung emu.

Dikutip Ensiklopedia Britannica, perang yang dikenal dengan istilah perang emu ini merupakan perang melawan burung besar asli Australia. Burung ini tidak bisa terbang. Burung ini diperangi karena merusak sejumlah besar tanaman di Australia Barat. Perlawanan ini dilakukan selama bulan November hingga Desember 1932.

Tiga anggota Artileri Australia ditugaskan untuk membasmi sekitar 20.000 emu menggunakan senapan mesin. Namun, senjata maupun cara lain yang digunakan terbukti sama sekali tidak ampuh.

Perang ini merupakan tanggapan pemerintah Australia petisi dari petani setempat yang mengeluh tentang emu yang merusak tanaman mereka.

Adapun burung emu ini memiliki tinggi lebih dari 5 kaki atau sekitar 1,5 meter. Beratnya bahkan bisa mencapai 45 kg. Emu sering bermigrasi ratusan kilometer selama setahun untuk mencari makanan dan air.

Pada tahun 1922, pemerintah Australia mengubah status emu dari spesies asli yang dilindungi menjadi "hama" sebagai respons terhadap kerusakan yang mereka timbulkan pada sejumlah besar tanaman penting, seperti gandum.

Emu sering menerobos pagar petani, membuat lubang yang kemudian memungkinkan hama seperti kelinci untuk melakukan kerusakan juga.

Perang Melawan Burung Emu

Pada November 1932, tiga anggota Artileri Australia melakukan perjalanan ke distrik Campion: Mayor Gwynydd Purves Wynne-Aubrey Meredith sebagai komandan, Sersan S. McMurray, dan Penembak J. O'Halloran. Kelompok ini membawa dua senapan mesin Lewis dan 10.000 butir amunisi. Mereka didampingi oleh seorang juru kamera.

Pada tanggal 2 November, ketiga anggota tim tersebut menggunakan taktik formasi melawan sekelompok sekitar 50 ekor emu. Ketika para prajurit melepaskan tembakan, burung-burung itu berhamburan ke segala arah, sehingga menjadi sasaran yang sangat sulit.

Pada tanggal 4 November, para prajurit memasang jebakan untuk emu di sumber air. Para penembak menunggu untuk melepaskan tembakan sampai ribuan emu berada dalam jangkauan. Namun, salah satu senapan macet setelah hanya beberapa tembakan, dan emu dengan cepat berhamburan.

Setelah tiga hari operasi, hanya sekitar 30 ekor emu yang terbunuh. Para petani mencoba menggiring emu menggunakan truk, tetapi ini terbukti tidak efektif; Bahkan ada satu truk yang menabrak seekor emu.

Pada tanggal 8 November, laporan berita setempat telah mempublikasikan secara luas kegagalan perang emu. Pada akhirnya, emu dianggap sebagai "pemenang" perang ini.

Pada tahun 1934 pemerintah telah mulai memasok amunisi kepada petani untuk perburuan emu. Namun, kurang dari 1.000 emu dilaporkan terbunuh. Kegagalan ini menjadi bahan ejekan nasional dan internasional pada masa tersebut.

(rdp/imk)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |