Nasib Warga Ciracas Kebanjiran Saat Lebaran

5 hours ago 3
Jakarta -

Warga Ciracas, Jakarta Timur, mesti menjalani hari raya Lebaran Idulfitri dengan tak biasa. Sebab, banjir melanda rumah-rumah mereka di hari pertama Lebaran.

Sedikitnya ada sembilan rukun warga (RW) di wilayah Kecamatan Ciracas yang terendam banjir. Banjir terjadi lantaran Kali Cipinang meluap.

Hujan Deras-Air Kiriman

Camat Ciracas, Panangaran Ritonga, mengatakan banjir terjadi setelah hujan dengan intensitas cukup tinggi. Hujan mengguyur wilayah tersebut sejak pukul 17.00 hingga 19.00 WIB, Sabtu (21/3/2026) kemarin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hujannya dari sore. Volume air dari hulu di kawasan Cimanggis, Depok, cukup besar, sehingga menyebabkan Kali Cipinang meluap," kata Panangaran dilansir Antara, Minggu (22/3).

Panangaran menyebutkan air mulai meluap dari Kali Cipinang sekitar pukul 18.30 WIB. Biasanya, genangan di wilayah tersebut dapat surut dalam waktu kurang lebih dua jam.

Namun, pada kejadian kali ini, air belum juga surut hingga lebih dari tiga jam setelah meluap. "Biasanya dua jam sudah surut, tapi sampai pukul 22.00 WIB air masih belum surut, awet banget banjirnya," ucapnya.

Menurut dia, belum surutnya genangan diduga dipengaruhi oleh tingginya debit air kiriman dari wilayah hulu serta kapasitas kali yang tidak mampu menampung volume air.

Pihaknya bersama unsur terkait masih terus memantau kondisi di lapangan, terutama di wilayah-wilayah yang berada di bantaran Kali Cipinang.

"Kami imbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat curah hujan masih berpotensi terjadi," ucap Panangaran.

Belum Surut hingga Hari Kedua Lebaran

Warga RW 03 hingga RW 05 Kecamatan Ciracas masih menghadapi banjir di hari kedua Lebaran 2026. Momen Hari Raya yang seharusnya penuh kebahagiaan, justru mengharuskan warga berlapang dada dengan datangnya luapan air ke rumah mereka.

Pantauan detikcom di lokasi, Minggu (22/3/2026), air dari Kali Cipinang Timur masih menggenang ke permukiman warga. Sejumlah warga nampak mengungsi.

Banjir di Warga RW 03 hingga RW 05 di Ciracas, Jakarta Timur pada hari kedua Lebaran, Minggu (22/3/2026).Foto: Banjir di Warga RW 03 hingga RW 05 di Ciracas, Jakarta Timur pada hari kedua Lebaran, Minggu (22/3/2026). (Rumondang/detikcom)

Namun sebagian warga memilih tetap bertahan di rumah. Anak-anak di sekitar terlihat masih bermain di tengah banjir.

Ketinggian banjir siang ini mulai setinggi 20 sampai 80 cm. Banjir mulai surut di sejumlah rumah, dan penghuninya terlihat sibuk membereskan sisa lumpur dan pasir.

Ada juga yang menjemur barang-barang bekas yang terendam banjir.

Gagal Keliling Silaturahmi dan Ziarah

Feri (51), warga Ciracas, Jakarta Timur, mengaku tak jadi silaturahmi Lebaran usai rumahnya kebanjiran. Meski di tengah musibah, Feri memilih bersyukur masih diberikan kesempatan merayakan hari kemenangan.

Ditemui detikcom, Feri dan sang istri tampak sedang bergantian membasuh meja dan kursinya dari pasir akibat banjir. Mereka sibuk di dalam rumah, meski air masih menggenangi area jalan di depan pagar rumahnya.

Warga Ciracas bersihkan rumah dari lumpur sisa banjir (Ondang/detikcom)Foto: Warga Ciracas bersihkan rumah dari lumpur sisa banjir (Ondang/detikcom)

Feri bercerita biasanya hari kedua Lebaran dihabiskan dengan berkeliling ke rumah kerabat atau berziarah. Rencana itu harus berubah, Feri harus merelakan baju kokonya berganti dengan pakaian lusuh untuk berjibaku dengan lumpur dan pasir.

"Biasanya (hari kedua Lebaran) ke rumah Bapak aja, ke paman-paman ncang-ncing, keliling, nyekar. Tapi hari ini nggak bisa, kagak dah. Udah badan udah nggak inian (red, lelah)," kata Feri ditemui di rumahnya, Ciracas, Jakarta Timur, Minggu (22/3/2026).

Sedihnya Kue Lebaran Ngambang

Suasana Lebaran yang biasanya hangat dan penuh kebersamaan berubah jadi kepanikan bagi Slamet (62), warga Ciracas. Ia tidak menyangka hujan yang turun sejak siang hari perlahan membawa menjadi banjir.

Dia menyebut situasi Lebaran di rumahnya awalnya terasa biasa saja. Hujan turun pelan, disertai angin, lalu reda, kemudian datang lagi.

"Memang hujannya pertama kecil-kecil lama, kecil, angin, kecil, angin. Lama-lama air dari sono mengalir, jalan mengalir. Hujan terus sampe deras, akhirnya kan nggak begitu (lama) banjir, agak biasa aja lah warga," katanya saat ditemui, Minggu (22/3/2026).

"Lama-kelamaan, entah lepasan entah apa tuh dari Depok byur abis tuh, kelelep semua, kerendem semua lah barang-barang di dalem (rumah)," sambungnya.

Saat itu, Slamet dan keluarganya tak sempat menyelamatkan barang-barang di rumahnya dari banjir. Alhasil kasur, perabot, hingga kudapan yang telah disiapkan untuk Lebaran terendam.

"Semua kasur ini udah pada kena semua. Kue-kue untuk Lebaran pada ngambang semua," tuturnya.

Malam itu, Slamet dan keluarganya terpaksa mengungsi ke masjid. Padahal dia menyebut beberapa kerabat sempat datang sebelum banjir datang.

"Keluarga yang dari pagi udah. Ini kan hujannya kan siang apa jam 2 terus sampe banjir," ucapnya.

Menurut Slamet, banjir kali ini adalah yang terparah. Biasanya, hujan hanya menyebabkan genangan ringan di jalan.
"Ini terparah, makannya sangat tidak mengenakan," tutur dia.

Slamet berharap pemerintah bisa mengambil langkah untuk melakukan pencegahan ke depan. Salah satunya dengan memperkuat dan meninggikan tanggul sungai agar air tidak kembali meluap ke permukiman.

"Harapannya adalah gotong royong nanganin kali, ninggiin pinggir, bibir kali, supaya jangan tumpah air kali," harapnya.

(fca/fca)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |