Menko PM Sebut E-Waste Bisa Jadi Sumber Ekonomi Baru bagi Masyarakat

3 hours ago 5

Jakarta -

Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), A. Muhaimin Iskandar menyebut green economy dan circular economy bukan hanya sebagai agenda lingkungan tetapi juga peluang besar pemberdayaan masyarakat dan instrumen pemerataan kesejahteraan.

Muhaimin mengatakan transisi menuju ekonomi hijau harus dirancang agar melibatkan masyarakat secara luas dan menciptakan nilai tambah di tingkat akar rumput.

"Green economy dan circular economy bukan sekedar agenda lingkungan melainkan peluang besar bagi tumbuh kembangnya ekonomi sekaligus pemberdayaan masyarakat kita. Dalam konteks energi terbarukan juga masyarakat harus terlibat dan menjadi bagian dari upaya untuk terus menumbuhkan berbagai kebutuhan kemajuan kita," tegas Muhaimin, dalam keterangan tertulis, Rabu (11/02/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal tersebut disampaikan Muhaimin dalam kegiatan Kuliah Umum (Studium Generale) di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat.

Muhaimin menjelaskan bahwa sektor energi terbarukan, mineral kritis, agroindustri sirkular, hingga waste-to-energy menyimpan potensi besar bagi pemberdayaan masyarakat.

Pada sektor energi terbarukan, masyarakat dapat terlibat dalam rantai pasok manufaktur komponen, operasi dan pemeliharaan, hingga pengembangan bioenergi berbasis komunitas.

Kemudian, sektor agroindustri sirkular, limbah pertanian dapat diolah menjadi bioenergi dan biomaterial bernilai tambah sehingga petani dan koperasi naik kelas. Sementara itu, skema waste-to-energy dan pengelolaan sampah modern membuka peluang penciptaan lapangan kerja baru sekaligus perbaikan kualitas lingkungan.

"Inilah peluang nyata bagi masyarakat, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah, bila pengelolaan pemilahan dan daur ulang e-waste ni dilakukan secara terorganisasi," ujarnya.

Sebagai ilustrasi, Muhaimin menyoroti peningkatan volume sampah elektronik (e-waste) global yang telah mencapai puluhan juta ton per tahun. Limbah tersebut mengandung logam bernilai tinggi seperti tembaga, nikel, dan kobalt.

Menurutnya, apabila pengelolaan, pemilahan, dan daur ulang e-waste dilakukan secara terorganisir dan berbasis teknologi, maka hal itu dapat menjadi sumber ekonomi baru, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

"Inilah contoh konkrit bagaimana circular ekonomi menjadikan masalah sosial sebagai sumber kesejahteraan," jelasnya.

Muhaimin menekankan bahwa peluang besar tersebut hanya dapat terwujud melalui orkestrasi ekosistem antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat. Dalam konteks ini, ITB dinilai memiliki peran strategis dalam membangun kapasitas SDM unggul, menetapkan standar teknologi, serta memastikan inovasi berdampak nyata.

"Dari kampus ini circular ekonomi harus bergerak dari konsep ke sistem, dari proyek ke ekosistem, dari wacana menjadi kehidupan nyata kita," tegasnya.

Muhaimin menegaskan bahwa industrialisasi yang hijau dan sirkular harus menjadi jalan Indonesia naik kelas agar lebih inklusif, lebih berdaya saing, dan lebih berkeadilan sosial.

(prf/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |