Jakarta - Momen berduka di pemakaman umumnya identik dengan warna hitam. Masyarakat biasanya memakai pakaian hitam untuk melayat, mengunjungi rumah duka atau hadir langsung di pemakaman.
Lantas, mengapa warna hitam identik dengan peristiwa kematian? Mengapa orang yang melayat memakai baju hitam? Berikut penjelasannya.
Asal-usul Pakaian Hitam Saat Berduka
Menurut laman Monument of Victoria, kebiasaan memakai pakaian hitam saat berduka diyakini dimulai oleh bangsa Romawi. Ketika seorang anggota keluarga meninggal dunia, kerabat yang masih hidup akan mengenakan toga berwarna gelap, yang dikenal sebagai toga pulla, sebagai tanda berkabung.
Praktik ini berlanjut di Inggris abad pertengahan, di mana sudah menjadi kebiasaan bagi wanita untuk mengenakan topi dan kerudung hitam setelah kematian suami mereka. Namun, di bagian lain Eropa, seperti Spanyol dan Prancis, warna putih sering dikaitkan dengan masa berkabung, terutama untuk para janda.
Pada abad pertengahan, warna hitam menjadi sangat erat kaitannya dengan duka cita, terutama di kalangan orang kaya. Pakaian hitam melambangkan kesedihan dan status sosial. Orang-orang memakainya untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang yang meninggal dan untuk mengungkapkan kehilangan mereka dengan cara yang dapat dilihat orang lain.
Dipopulerkan oleh Ratu Victoria
Mengutip dari situs hasil penelitian tentang koleksi Inggris di Pitt Rivers Museum, University of Oxford, kesedihan mendalam dialami Ratu Victoria setelah kematian suaminya, Pangeran Albert, pada tahun 1861. Ia mengenakan pakaian berkabung hitam selama sisa hidupnya.
Hal ini kemudian memengaruhi banyak orang. Etiket berkabung pada periode ini menjadi sangat terstruktur, dengan aturan tentang berapa lama pakaian hitam harus dikenakan dan apa yang sesuai untuk berbagai tahapan kesedihan.
Pada zaman Victoria, pakaian hitam dikenakan untuk pemakaman dan selama setahun setelah kematian ('berkabung mendalam') oleh kerabat dekat, secara bertahap digantikan oleh warna gelap lainnya ('berkabung setengah'), seringkali ungu atau hijau tua berhiaskan hitam. Setelah jangka waktu yang sesuai, orang tersebut akan 'keluar dari masa berkabung', dan mengenakan warna-warna cerah lagi.
Semakin dekat hubungan keluarga yang berduka, semakin banyak pakaian berkabung yang ditentukan dan semakin lama masa berkabung mendalam. Para janda mengenakan pakaian hitam yang menutupi tubuh dan kerudung tebal dari kain krep hitam, biasanya selama lebih dari setahun. Semua barang pakaian dipengaruhi oleh aturan berkabung, termasuk aksesori seperti sapu tangan, payung, topi, dan sepatu.
Kemudian, kebiasaan pemakaman di Amerika sebagian besar mencerminkan kebiasaan di Inggris Raya, termasuk tradisi pakaian berkabung berwarna hitam. Praktik ini telah mengakar kuat dalam budaya Amerika pada akhir tahun 1800-an.
Namun, meskipun tradisi mengenakan pakaian hitam ke pemakaman tetap bertahan dalam budaya Barat, penting untuk dicatat bahwa budaya dan agama lain memiliki adat istiadat pemakaman dan warna berkabung mereka sendiri.
Arti Warna Hitam Saat Berkabung
Warna hitam dikaitkan dengan keseriusan, martabat, dan rasa hormat. Ini adalah warna yang menyampaikan kedalaman perasaan untuk menandai kehilangan.
Selain itu, warna hitam juga terkesan sederhana, memastikan bahwa fokus di pemakaman tetap pada orang yang dihormati, bukan pada apa yang dikenakan orang. Warna hitam membawa rasa persatuan di antara para pelayat, menunjukkan rasa hormat kolektif kepada almarhum.
Namun, hitam bukanlah satu-satunya warna yang dikaitkan dengan duka cita. Di banyak budaya Timur, misalnya, putih secara tradisional dikenakan saat pemakaman. Putih melambangkan kemurnian dan kedamaian, menawarkan cara yang berbeda namun sama kuatnya untuk mengekspresikan kesedihan.
Tonton juga video "Sultan HB X Melayat ke Keraton Solo untuk Takziah PB XIII"
(kny/imk)


















































