KPAI Prihatin 3 Siswi SMA di Sumsel Aniaya Teman gegara Dibandingkan Ortu

10 hours ago 9
Jakarta -

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) prihatin dengan kasus penganiayaan yang dilakukan 3 orang siswa SMA kepada temannya berinisial PC (15) di Musi Rawas, Sumatera Selatan (Sumsel). KPAI berhadap adanya peran orang tua dan sekolah dalam pencegahan.

"KPAI turut prihatin kasus bullying masih kerap terjadi. Kami khawatir bullying seolah menjadi habituasi di kalangan anak-anak hari ini. Terutama di dalam kasus ini berawal dari saling ejek orang tua," kata Komisioner KPAI Pengampu Kekerasan Fisik dan Psikis, Diyah Puspitarini, kepada wartawan, Sabtu (2/5/2026).

KPAI berharap anak-anak diberikan pemahaman bahwa bullying adalah perilaku yang tidak wajar. Diyah meminta siswa yang menjadi pelaku dan korban dalam kasus di Sumsel ini diberikan pendampingan psikologis.

"Tentu KPAI mendorong agar pencegahan dan pemahaman bahwa bullying adalah sebuah perilaku tidak wajar sehingga jangan sampai anak-anak melakukan demikian. Untuk kasus ini anak-anak perlu mendapat pendampingan psikologis dan pemahaman agar kejadian tidak terjadi dan tidak meluas," ucap dia.

Diyah juga meminta sekolah untuk menerapkan Permendikdasmen No 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN). Diyah mengatakan sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk siswa.

"Kemudian untuk orang tua juga seharusnya sejalan dengan sekolah memberikan pemahaman kepada anak agar menghindari bullying dan menekankan pendekatan resiliensi pada anak sehingga anak tidak mudah melakukan ataupun menanggapi perilaku bullying," ucap dia.

Diyah mengungkapkan ada sejumlah faktor kasus bullying anak di sekolah terus terjadi. Salah satu faktor adalah rendahnya resiliensi atau kemampuan anak dalam beradaptasi dan merespons situasi sulit.

"Faktor resiliensi rendah anak-anak, sehingga sangat mudah tersulut akan hal yang terjadi dengan melakukan penekanan kepada pihak lain. Pengawasan yang lemah dari orang tua, sekolah dan masyarakat," kata dia.

Selain itu, pengaruh media sosial juga menjadi salah satu pemicunya. Dia juga menyinggung peran sekolah dalam pencegahan.

"Faktor pengaruh media sosial, game online juga membuat anak terpengaruh dengan adegan berbau fisik. Jika terjadi di sekolah tentu faktor pengawasan dan penerapan Permendikdasmen No 6 tahun 2026 belum maksimal diterapkan," ujar dia.

Faktor lain, kata Diyah, adalah adanya senioritas di sekolah. Hal ini, menurutnya, menjadi pemicu kekerasan di sekolah.

"Adanya junior dan senioritas serta dominasi salah satu orang atau kelompok di sekolah juga mengakibatkan bullying terjadi," ucap dia.

Diyah berharap peran berbagai pihak terutama orang tua dan sekolah dapat mencegah bullying ini.

"Tidak bisa hanya menyalahkan sekolah saja, tapi peran orang tua menanamkan resiliensi dari rumah juga penting," pungkasnya.

3 Siswa SMA Aniaya Teman di Sumsel

Seorang siswi salah satu SMA Negeri di Musi Rawas, Sumatera Selatan (Sumsel), berinisial PC (15) menjadi korban penganiayaan oleh tiga teman sekolahnya di ruang UKS hingga luka-luka. Penganiayaan terjadi lantaran para pelaku tak terima lantaran orang tuanya sering membanding-bandingkan mereka dengan korban.

"Jadi ibu mereka ini bandingin mereka dengan korban seperti korban ini cantik dan juga pintar. Akibatnya mereka jadi emosi karena dibanding-bandingin terus," kata Kapolsek Muara Kelingi Iptu M Nur Hendra dilansir detikSumbagsel, Kamis (30/4).

Penganiayaan terjadi pada Rabu (29/4) sekitar pukul 09.00 WIB. Ketiga pelaku dan korban merupakan teman sekolah dan masih memiliki hubungan keluarga.

"Korban dipukul, dicengkeram, hingga dijambak oleh ketiga terduga pelaku. Setelah korban berteriak, para guru akhirnya datang sampai mereka di panggil ke kantor untuk diselesaikan masalah itu," ujarnya.

(lir/idn)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |