KKP Jadikan KNMP Lateng Kawasan Tematik Hilirisasi Berbasis Wisata Kuliner

11 hours ago 4

Jakarta -

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menghadirkan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) sebagai kawasan tematik hilirisasi berbasis wisata kuliner. KNMP Lateng di Banyuwangi menjadi proyek tahap pertama yang telah rampung 100 persen.

KNMP Lateng tidak hanya berfungsi sebagai pusat aktivitas nelayan, tetapi juga sebagai sentra pengolahan hasil tangkap untuk meningkatkan nilai tambah dan memperkuat ekonomi pesisir.

Dari sisi arsitektur, kawasan ini menampilkan enam bangunan bergaya rumah adat Suku Osing dengan ornamen batik Gajah Oling, memadukan unsur modern dan kearifan lokal Banyuwangi. Konsep tersebut memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata kuliner berbasis hasil laut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menegaskan KNMP Lateng memiliki pendekatan berbeda. Jika daerah lain berfokus pada penguatan sarana produksi, Banyuwangi mengedepankan hilirisasi secara langsung.

"Di beberapa wilayah lain lebih ke arah produksi dan sarana prasarana produksi. Tetapi di sini tematik hilirnya. Jadi hilirisasi langsung, hasil tangkapan nelayan dibawa ke sini untuk diolah menjadi produk kuliner. Ini menggerakkan ekonomi di level bawah karena ada kombinasi antara produksi dan kuliner," kata Trenggono, dalam keterangan tertulis, Selasa (3/3/2026).

Trenggono menjelaskan, model tematik ini dirancang untuk membangun ekosistem ekonomi yang terintegrasi, dari nelayan sebagai produsen hingga pelaku usaha kuliner sebagai pengolah dan pemasar. Pemerintah akan mengevaluasi program tersebut dalam dua tahun ke depan guna mengukur dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi lokal dan kesejahteraan nelayan.

"Nanti kita lihat pertumbuhan ekonomi dengan hadirnya kampung nelayan tematik kuliner ini seperti apa. Dampaknya kepada nelayan juga akan kita hitung," katanya.

Untuk mendukung operasional nelayan, pemerintah menyiapkan fasilitas penunjang seperti pabrik es dan pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN). Menurutnya, pembangunan SPBN akan dikoordinasikan dengan Pertamina dan instansi terkait guna memastikan ketersediaan kuota bahan bakar bagi nelayan.

"SPBN tidak hanya di Banyuwangi, tetapi akan kita instal di seluruh KNMP. Kita sudah bicara dengan Pertamina dan pihak terkait untuk alokasi kuotanya," ujarnya.

Pemerintah juga membuka peluang bantuan kapal bagi nelayan sesuai hasil pendataan di lapangan. Pengelolaan kawasan kuliner akan melibatkan koperasi binaan pemerintah daerah agar manfaat ekonomi dapat dikelola secara kolektif dan berkelanjutan.

Di kawasan tersebut terdapat 20 kios yang diisi pelaku usaha lokal. Salah satunya, Ramli, pemilik Kios 2, menilai penataan kawasan yang lebih tertib membuat aktivitas usaha menjadi lebih teratur.

"Biasanya ramai pada malam hari. Pendapatan sehari sekitar Rp200 ribu sampai Rp250 ribu. Harapannya ke depan retribusi tidak memberatkan," jelasnya.

Dengan konsep hilirisasi tematik, pemerintah optimistis KNMP Lateng dapat menjadi model pembangunan pesisir yang tak hanya memperkuat produksi perikanan, tetapi juga mendorong pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis kuliner dan pariwisata. Skema ini diharapkan memberi dampak langsung pada kesejahteraan nelayan dan keluarganya.

Simak juga Video 'PKB soal Trenggono-Purbaya Debat Terbuka: Alarm bagi Kabinet':

(anl/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |