Kemenkes Minta TEP Petakan Persoalan Kesehatan di Kawasan Transmigrasi

7 hours ago 2

Jakarta -

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 untuk memperhatikan kondisi kesehatan dan kualitas sumber daya manusia masyarakat di kawasan transmigrasi.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Kementerian Kesehatan Maria Endang Sumiwi mengatakan keberhasilan menuju Indonesia Maju tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi semata, melainkan juga dari hidup sehat yang lebih lama.

Ia menyebut angka harapan hidup orang Indonesia saat ini rata-rata berada di usia 74 tahun, jauh di bawah Singapura yang mencapai 84 tahun. Di dalam negeri, DKI Jakarta disebut memiliki angka harapan hidup sekitar 76 tahun, sementara Papua Pegunungan masih berada di kisaran 67-68 tahun. Kondisi itu, kata dia, menjadi pekerjaan rumah bersama, termasuk bagi peserta TEP 2026 yang akan turun ke kawasan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi ini PR kita semua, nanti saya harapkan teman-teman Tim Ekspedisi Patriot selain melihat potensi ekonomi, juga melihat sumber daya manusianya ketika pergi ke lapangan," kata Maria Endang saat memberikan pembekalan kepada 1.476 peserta Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Balai Kartini, Jakarta beberapa waktu lalu, dikutip dalam keterangan tertulis, Jumat (7/8/2026).

Maria menegaskan peserta TEP perlu melihat langsung persoalan kesehatan masyarakat di lokasi penugasan, termasuk pada kelompok bayi, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Ia menjelaskan pola penyebab kematian di Indonesia juga telah bergeser. Kematian akibat stroke tetap menjadi penyebab utama, disusul serangan jantung, diabetes, dan gagal ginjal yang kini masuk daftar 10 besar. Menurut dia, kondisi itu menunjukkan banyak penyakit bisa dicegah sejak dini.

"Jadi ini tantangan kesehatan kita, nanti tolong dilihat di tempatnya datang ke sana. Dan ini yang mengambil biaya kesehatan kita. Kalau BPJS bilang defisit-defisit karena dipakai untuk operasi jantung, dipakai untuk operasi stroke, dipakai untuk cuci darah seminggu 2 kali. Padahal semua itu bisa dicegah," paparnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menerapkan tujuh kebiasaan hidup sehat, yakni makan bergizi, aktivitas fisik, lingkungan bersih dan lestari, tidak merokok, imunisasi, kesehatan mental, serta cek kesehatan gratis setiap tahun. Maria Endang menilai kebiasaan hidup sehat perlu dilihat langsung di lapangan, termasuk pola makan masyarakat, akses air bersih, sanitasi, serta perilaku hidup bersih yang menjadi penentu umur panjang yang sehat dan produktif.

Dalam kesempatan itu, Maria Endang juga mendorong peserta TEP untuk mendatangi puskesmas, puskesmas pembantu, dan posyandu di wilayah tugas masing-masing. Menurut dia, layanan kesehatan dasar di tingkat masyarakat menjadi kunci untuk membaca situasi kesehatan keluarga, mulai dari balita hingga lansia.

Selain itu pemerintah telah menjalankan program Cek Kesehatan Gratis yang sudah menjangkau 70 juta orang dan menargetkan 130 juta pemeriksaan, meski akses di sejumlah wilayah Papua masih rendah.

Maria Endang menambahkan tantangan yang dihadapi peserta TEP di kawasan terpencil dan sangat terpencil, termasuk di Papua, juga perlu dilihat dari sisi layanan kesehatan. Ia menyebut Papua Tengah memiliki 127 puskesmas, dengan 88 di antaranya berada di wilayah terpencil dan 23 sangat terpencil.

"Nanti boleh dilihat kondisi puskesmas di sana, pelayanan di sana bisa juga dibantu. Dalam keadaan seperti ini kita bisa lihat outcome kesehatannya dari stunting misalnya, ya. Nah, stunting kita lihat yang merah dan oranye juga di daerah-daerah yang aksesnya kurang baik," tutur Maria Endang.

Untuk itu, Maria berharap TEP 2026 dapat ikut berkontribusi dalam mendukung Asta Cita Kesehatan, terutama melalui cek kesehatan gratis, penanggulangan TBC, dan pembangunan rumah sakit.

"Semoga semua Tim Ekspedisi Patriot bisa berkontribusi juga mengambil bagian dalam usaha kita membuat masyarakat sehat di daerah-daerah yang didatangi," pungkasnya.

(akd/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |