Kapolri Ungkap Langkah Strategis Pemerintah Hadapi Dampak Perang Timur Tengah

3 hours ago 2
Jakarta -

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bicara situasi yang memanas di Timur Tengah saat apel gelar pasukan Operasi Ketupat 2026 di Monas, Jakarta Pusat. Ia menyebut eskalasi perang di wilayah tersebut imbas perang antara Amerika Serikat (AS)-Irael dan Iran.

"Peserta apel dan para hadirin yang saya banggakan, sebagaimana kita ketahui bersama, situasi global saat ini menunjukkan eskalasi yang semakin meningkat. Mulai dari konflik antara Israel dan Palestina, hingga Israel, Amerika Serikat, dan Iran," ujar Jenderal Sigit dalam sambutannya di Monas, Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jenderal Sigit mengatakan konflik tersebut telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, termasuk pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei. Serta, memicu rangkaian aksi balasan militer.

"Serangan terhadap infrastruktur strategis di negara kawasan Timur Tengah lainnya, termasuk serangan kilang minyak Aramco. Fasilitas penyimpanan minyak di Teheran dan Provinsi Alborz, serta pertokoan dan berbagai fasilitas publik di Beirut, Lebanon," ucapnya.

Kapolri menjelaskan situasi tersebut berimplikasi terhadap gejolak harga minyak dunia yang berdampak terhadap stabilitas ekonomi global. Apabila situasi ini tidak membaik, maka, lanjut dia, akan berpotensi melemahkan nilai tukar rupiah.

"Memicu kenaikan harga berbagai komoditas yang dapat menurunkan daya beli masyarakat, meningkatnya inflasi, dan pengetatan kebijakan fiskal yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi nasional," jelasnya.

Jenderal Sigit menjelaskan, pada 10 Maret 2026, harga minyak dunia sempat menurun. Namun kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai mengingat situasi global masih belum sepenuhnya stabil.

"Menyikapi dinamika tersebut, pemerintah terus melakukan berbagai langkah diplomasi dengan mengedepankan politik luar negeri bebas aktif dan prinsip non-blok. Guna memitigasi dampak eskalasi global sekaligus mendorong terciptanya perdamaian dunia," tuturnya.

Sejalan dengan hal tersebut, lanjut Jenderal Sigit, Indonesia juga berperan aktif dalam berbagai upaya diplomasi internasional. Termasuk mendorong terciptanya perdamaian antara Palestina dan Israel dengan bergabung dalam Board of Peace melalui pendekatan two-state solution, karena keterlibatan lembaga-lembaga formal seperti PBB saat ini sudah tidak lagi didengar.

"Indonesia juga bersedia menjadi juru damai dalam mengakhiri konflik antara Iran dan Israel-Amerika, dengan terus berkomunikasi dengan negara-negara kawasan Teluk, termasuk negara-negara di ASEAN dan negara Barat untuk mencari solusi atas konflik yang terjadi," ungkapnya.

Jenderal Sigit menyampaikan, di sisi lain, pemerintah juga menempuh langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas nasional, termasuk memperkuat diplomasi perdagangan. Sehingga dapat menjadi peluang besar bagi dunia usaha dan industri nasional untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi agar tetap stabil.

"Selain itu, pemerintah juga melakukan langkah-langkah dalam rangka menjaga kestabilan harga minyak dengan memberikan bantuan subsidi. Berdasarkan data Pertamina, stok BBM dan LPG nasional masih mencukupi," tuturnya.

"Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk membeli sesuai dengan kebutuhan dan tidak melakukan panic buying. Berbagai hal yang diupayakan pemerintah terus tentunya harus kita dukung bersama-sama," sambung dia.

(dvp/maa)


Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |