Kala Prabowo Ngaku Berguru Ilmu Politik dari NU

4 hours ago 3
Jakarta -

Penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) diadakan di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Bangkalan, Madura, Jawa Timur (Jatim). Pada saat memberikan pidato penutupan acara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengatakan seharusnya belajar politik dari NU.

Prabowo menghadiri Munas Alim Ulama dan Konbes Nahdlatul Ulama di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Bangkalan, Selasa (23/6), mengenakan baju safari berkelir khaki lengkap dengan peci. Prabowo menyalami para nahdliyin yang telah menunggu kedatangannya di lokasi.

Prabowo disambut Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar, Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf, Sekjen PBNU Saifullah Yusuf, dan Menag Nasaruddin Umar. Turut hadir dalam acara Ketua MPR Ahmad Muzani, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan Menko Pangan Zulkifli Hasan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, Mensesneg Prasetyo Hadi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Seskab Teddy Indra Wijaya, dan Ketum Dewan Pembina PP Muslimat NU sekaligus Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa hadir juga dalam acara.

Prabowo Belajar Politik dari NU

Pada awal pidatonya, Prabowo menyapa sejumlah menteri dengan latar belakang NU, lantas menyinggung anggota NU ada di tiap partai. Prabowo berkelakar seharusnya berbagai pihak belajar berpolitik dari NU.

"Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Menteri PPPA sekaligus Ketum PP Muslimat NU Arifatul. Ini Kabinet Merah Putih banyak sekali NU-nya ya," kata Prabowo.

Prabowo memuji kehebatan kaderisasi NU sehingga para anggotanya berada di berbagai organisasi hingga pemerintah. Mantan Menhan itu menyebut anggota NU juga ada di semua partai.

"NU memang hebat. Selalu berada di mana-mana ya kan. Semua partai, NU hadir," ujarnya.

"Jadi NU nggak pernah kalah. Hebat, hebat. Kalau belajar politik seharusnya dari NU," kata Prabowo disambut tawa hadirin.

Prabowo Nyaman di Tengah NU

Selain itu, Prabowo mengatakan selalu merasa nyaman dengan segala unsur Nahdlatul Ulama di sekelilingnya. Prabowo mengungkit memiliki kedekatan dengan NU secara historis dan kekeluargaan.

"Memang saya merasa selalu nyaman di tengah-tengah keluarga besar Nahdlatul Ulama. Nyaman dan aman, merasa aman. Sambutan yang demikian besar kepada saya. Masalahnya memang saya kenal keluarga besar Nahdlatul Ulama dari sejak kecil karena dulu saya tetangganya keluarga Gus Dur di Jakarta. Dan eyang saya, eyang putri saya, memang dari NU," kata Prabowo.

Prabowo menilai NU merupakan organisasi keagamaan yang nasionalis dan patriotik. Prabowo menilai lagu-lagu yang menjadi tradisi di NU mengandung nilai cinta Tanah Air meski diciptakan sebelum Indonesia merdeka.

Presiden Prabowo di acara penutupan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).Presiden Prabowo di acara penutupan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026). (Laily Rachev-Biro Sekretariat Presiden)

"Dan juga ada satu ciri khas yang saya dari dulu perhatikan, bahwa Nahdlatul Ulama adalah memang organisasi keagamaan tapi sangat nasionalis, sangat patriotik, sangat cinta Tanah Air. Jadi agamis tapi nasionalis dan patriotik. Sampai-sampai lagunya NU yang ditulis atau dibuat sebelum Indonesia merdeka tapi sudah mengandung nilai-nilai cinta Tanah Air yang luar biasa," kata Prabowo.

Salah satu lagu NU yang disinggung Prabowo adalah 'Ya Lal Wathon'. Prabowo melempar kelakar para warga NU selalu mengepalkan tangan saat lagu itu dinyanyikan seperti seorang prajurit TNI.

"Dan ini masih dipertahankan setiap acara NU saya perhatikan lagu 'Ya Lal Wathon' tidak pernah tidak dinyanyikan. Terima kasih. Bahkan nyanyinya itu tangannya pun harus kepalan, kepalan. Ini luar biasa ini, ini belum ada Kopassus, NU sudah lebih dari Kopassus. Sekarang apa itu TNI, kan ada itu kalau foto (pose) salam komando, NU sudah dulu, sebelum merdeka sudah salam komando itu," katanya.

Peran Kiai di Mata Prabowo

Masih dalam momen yang sama, Prabowo menekankan pentingnya peran kiai dan ulama dalam masyarakat bahkan hingga lapisan terbawah. Menurut Prabowo, para kiai dan ulama adalah tokoh yang paling dekat dengan rakyat.

"Nahdlatul Ulama, organisasi para kiai, para ulama. Para kiai dan para ulama adalah menurut saya tokoh-tokoh yang paling dekat dengan rakyat. Paling dekat apalagi dengan rakyat di pedesaan," kata Prabowo.

Para ulama, menurut Prabowo, merasakan langsung berbagai persoalan yang dihadapi rakyat, terutama kelompok masyarakat di lapisan bawah. Prabowo menilai kondisi itu memiliki kesamaan dengan aparat negara, seperti tentara dan polisi, yang juga berasal dari lingkungan masyarakat.

"Karena itu, para kiai, para ulama paham, mengerti apa yang dirasakan rakyat. Para kiai dan para ulama merasakan apa yang dirasakan rakyat paling bawah," kata Prabowo.

"Karena itu, ada suatu perkembangan alamiah karena tentara pejuang, polisi, dan aparat juga berasal dari rakyat. Karena itu, ulama, pemerintahan, tentara, kepolisian sesungguhnya paham dan mengerti perasaan rakyat," lanjutnya.

Prabowo pun melempar candaan dirinya harus patuh pada ulama dan kiai. Namun, sebaliknya, jika di Istana, kiai-lah yang harus patuh dengannya.

"Harus patuh dengan kiai kalau di sini. Di Istana, kiai patuh sama saya. Itu namanya ulama sama umara (pemimpin) bersatu untuk bangsa dan negara," katanya.

Saksikan Live DetikPagi:

(rfs/rfs)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |